Senin, 29 April 2013

<> MAKRIFAT KEPADA ALLAH

ada pun makrifat itu rahsianya ialah mengenal Zat Allah dan Zat Rasulullah,oleh kerana itulah makrifat dimulakan:-
1. Makrifat diri yang zahir. 2. Makrifat diri yang bathin. 3. Makrifat Tuhan.
APA GUNA MAKRIFAT? Ada pun guna makrifat kerana mencari HAKIKAT iaitu mengenal yang Qadim dan mengenal yang baharu sebagaimana kata:
"AWALUDDIN MAKRIFATULLAH" Ertinya: Awal ugama mengenal Allah. Maksudnya mengenal yang mana Qadim dan yang mana baharu serta dapat mengenal yang Qadim dan yang baharu,maka dapatlah membezakan diantara Tuhan dengan hamba.
BAITULLAH KALBU MUKMININ
Sesungguhnya hati ini sewaktu bayi sehingga aqil baliq diibaratkan bunga yang sedang menguntum,tidak ada seekor ulat atau kumbang yang dapat menjelajahnya! apabila dewasa (aqil baliq) maka hati itu ibaratkan bunga yang sedang mengembang,maka masuklah ulat dan kumbang menjelajah bunga itu! Sesungguhnya amalan makrifat dan zikir yang dibaiah itu adalah untuk membersihkan hati agar dapat menguntum semula seperti hati kanak-kanak yang suci-bersih! Hati ini juga seperti satu bekas menyimpan gula yang tertutup rapat dan dijaga dengan baik! sekiranya tutup itu tidak jaga dengan baik atau tutupnya sudah rosak,maka masuklah semut hitam yang sememangnya gula itu makanannya!
PEPERANGAN Peperangan yang lebih besar dari perang UHUD, KHANDAK dan lain-lain peperangan ialah "Peperangan dalam diri sendiri (Hati)", setiap saat denyut jantung ku ini, aku akan terus berperang.Sesungguhnya iblis itu menanti saat dan ketika untuk merosakkan anak Adam !Sekiranya aku tidak ada bersenjata (zikir), nescaya aku pasti kecundang!Keluar masuk nafas anak Adam adalah zikir! 6,666 sehari semalam nafas keluar dan masuk, sekiranya anak Adam tidak bersenjata, pasti ia kecundang!

ASAL USUL MAKRIFAT Rasulullah SAW mengajar kepada sahabatnya Saidina Ali Karamullah.Saidina Ali Karamullah mengajar kepada Imam Abu Hassan Basri.Imam Abu Hassan Basri mengajar kepada Habib An Najmi.Habib An Najmi mengajar kepada Daud Attaie.Daud Attaie mengajar kepada Maaruf Al Karhi.Maaruf Al Karhi mengajar kepada Sirris Sakatari.Sirris Sakatari mengajar kepada Daud Assakatar.Daud Assakatar mengajar kepada Al Junidi. Maka Al Junidi yang terkenal sebagai pengasas MAKRIFAT.Maka pancaran makrifat itu dari empat sumber iaitu:
1. Pancaran daripada sumber SULUK yang dinamakan Makrifat Musyahadah. 2. Pancaran daripada sumber KHALUAT yang dinamakan Makrifat Insaniah. 3. Pancaran daripada Inayah yang dinamakan ROHANI.
4. Pancaran daripada Pertapaan yang dinamakan JIRIM.

Maka dari sumber amalan itulah terbit makrifat yang tinggi dan mempunyai rahsia yang sulit.

 

 

API MA'RIFATULLAH

 

Dengan berlindung kepada Allah Swt, Pencetusan Api Ma’rifattullah dalam kalimah “ALLAH” saya awali.

Syahdan, nama Allah itu tidak akan pernah dapat dihilangkan, sebab nama Allah itu akan menjadikan Zikir bagi para Malaikat, Zikir para burung, Zikir para binatang melata, Zikir tumbuh-tumbuhan dan Zikir dari Nasar yang 4 (tanah, air, angin dan api) serta zikir segala makhluk yang ada pada 7 lapis langit dan 7 lapis bumi, juga zikir makhluk yang berdiam diantara langit dan bumi. (buka…..Al-Qur’an, Surah At-thalaq, ayat 1).

Adapun zikir para makhluk Allah yang kami sebutkan tadi tidaklah sama logatnya, dan tidak sama pula bunyi dan bacaannya. Tidak sedikit para akhli Sufi dan para wali-wali Allah yang telah mendengar akan bunyi zikir para makhluk itu, sungguh sangat beraneka ragam bunyinya.

Dalam Kitab Taurat, nama Zat yang maha Esa itu ada 300 banyaknya yang ditulis menurut bahasa Taurat, dalam Kitab Zabur juga ada 300 banyaknya nama Zat yang maha esa itu yang ditulis dengan bahasa Zabur.

Dalam Kitab Injil juga ada 300 banyaknya nama Zat yang Esa itu yang ditulis dengan bahasa Injil, dan dalam Kitab Al-Qur’an juga ada 99 nama Zat yang esa itu ditulis dalam bahasa Arab. Jika kita berhitung maka dari keempat kitab itu yang ditulis berdasarkan versinya, maka akan ada 999 nama bagi zat yang maha esa itu, dari jumlah tersebut maka yang 998 nama itu, adalah nama dari Sifat Zat yang maha Esa, sedangkan nama dari pada Zat yang maha esa itu hanya satu saja, yaitu “ ALLAH ”.

Diterangkan didalam Kitab Fathurrahman, berbahasa Arab, yaitu pada halaman 523. disebutkan bahwa nama Allah itu tertulis didalam Al-Qur’an sebanyak 2.696 tempat.

Apa kiranya hikmah yang dapat kita ambil mengapa begitu banyak nama Allah, Zat yang maha Esa itu bagi kita…?

Allah, Zat yang maha esa, berpesan :

“ Wahai Hambaku janganlah kamu sekalian lupa kepada namaku “

Maksudnya : Allah itu namaku dan Zatku, dan tidak akan pernah bercerai, Namaku dan Zatku itu satu.

Allah Swt juga telah menurunkan 100 kitab kepada para nabi-nabinya, kemudian ditambah 4 kitab lagi sehingga jumlah keseluruhan kitab yang telah diturunkan-Nya berjumlah 104 buah kitab, dan yang 103 buah kitab itu rahasianya terhimpun didalam Al-Qur’annul karim, dan rahasia Al-Qur’annul karim itu pun rahasianya terletak pada kalimah “ALLAH”.

Begitu pula dengan kalimah La Ilaha Ilallah, jika ditulis dalam bahasa arab ada 12 huruf, dan jika digugurkan 8 huruf pada awal kalimah La Ilaha Ilallah, maka akan tertinggal 4 huruf saja, yaitu Allah.

Ma’na kalimah ALLAH itu adalah sebuah nama saja, sekalipun digugurkan satu persatu nilainya tidak akan pernah berkurang, bahkan akan mengandung ma’na dan arti yang mendalam, dan mengandung rahasia penting bagi kehidupan kita selaku umat manusia yang telah diciptakan oleh Allah Swt dalam bentuk yang paling sempurna.

ALLAH jika diarabkan maka Ia akan berhuruf dasar Alif, Lam diawal, Lam diakhir dan Ha. Seandai kata ingin kita melihat kesempurnaannya maka gugurkanlah satu persatu atau huruf demi hurufnya.

• Gugurkan huruf pertamanya, yaitu huruf Alif (ا ), maka akan tersisa 3 huruf saja dan bunyinya tidak Allah lagi tetapi akan berbunyi Lillah, artinya bagi Allah, dari Allah, kepada Allahlah kembalinya segala makhluk.
• Gugurkan huruf keduanya, yaitu huruf Lam awal (ل ), maka akan tersisa 2 huruf saja dan bunyinya tidak lillah lagi tetapi akan berbunyi Lahu.
Lahu Mafissamawati wal Ardi, artinya Bagi Allah segala apa saja yang ada pada tujuh lapis langit dan tujuh lapis bumi.
• Gugurkan huruf ketiganya, yaitu huruf Lam akhir ( ل), maka akan tersisa 1 huruf saja dan bunyinya tidak lahu lagi tetapi Hu, Huwal haiyul qayum, artinya Zat Allah yang hidup dan berdiri sendirinya.

Kalimah HU ringkasnya dari kalimah Huwa, sebenarnya setiap kalimah Huwa, artinya Zat, misalnya :

Qul Huwallahu Ahad., artinya Zat yang bersifat kesempurnaan yang dinamai Allah. Yang dimaksud kalimah HU itu menjadi berbunyi AH, artinya Zat.

Bagi sufi, napas kita yang keluar masuk semasa kita masih hidup ini berisi amal bathin, yaitu HU, kembali napas turun di isi dengan kalimah ALLAH, kebawah tiada berbatas dan keatas tiada terhingga.

Perhatikan beberapa pengguguran – pengguguran dibawah ini :

Ketahui pula olehmu, jika pada kalimah ALLAH itu kita gugurkan Lam (ل ) pertama dan Lam (ل ) keduanya, maka tinggallah dua huruf yang awal dan huruf yang akhir (dipangkal dan diakhir), yaitu huruf Alif dan huruf Ha (dibaca AH).

Kalimah ini (AH) tidak dibaca lagi dengan nafas yang keluar masuk dan tidak dibaca lagi dengan nafas keatas atau kebawah tetapi hanya dibaca dengan titik.

Kalimah AH, jika dituliskan dengan huruf Arab, terdiri 2 huruf, artinya dalam bahasa disebutkan INTAHA (Kesudahan dan keakhiran), seandai saja kita berjalan mencari Allah tentu akan ada permulaannya dan tentunya juga akan ada kesudahannya, akan tetapi kalau sudah sampai lafald Zikir AH, maka sampailah perjalanan itu ketujuan yang dimaksudkan. (Silahkan bertanya kepada akhlinya)

Selanjutnya gugurkan Huruf Awalnya, yaitu huruf ALIF dan gugurkan huruf akhirnya, yaitu huruf HA, maka akan tersisa 2 buah huruf ditengahnya yaitu huruf LAM pertama (Lam Alif) dan huruf LAM kedua ( La Nafiah). Qaidah para sufi menyatakan tujuannya adalah Jika berkata LA (Tidak ada Tuhan), ILLA (Ada Tuhan), Nafi mengandung Isbat, Isbat mengandung Nafi tiada bercerai atau terpisah Nafi dan Isbat itu.

Selanjutnya gugurkan huruf LAM kedua dan huruf HU, maka yang tertinggal juga dua huruf, yaitu huruf Alif dan huruf Lam yang pertama, kedua huruf yang tertinggal itu dinamai Alif Lam La’tif dan kedua huruf itu menunjukkan Zat Allah, maksudnya Ma’rifat yang sema’rifatnya dalam artian yang mendalam, bahwa kalimah Allah bukan NAKIRAH, kalimah Allah adalah Ma’rifat, yakni Isyarat dari huruf Alif dan Lam yang pertama pada awal kalimah ALLAH.

Gugurkan tiga huruf sekaligus, yaitu huruf LAM pertama, LAM kedua, dan HU maka tinggallah huruf yang paling tunggal dari segala yang tunggal, yaitu huruf Alif (Alif tunggal yang berdiri sendirinya).

Berilah tanda pada huruf Alif yang tunggal itu dengan tanda Atas, Bawah dan depan, maka akan berbunyi : A.I.U dan setiap berbunyi A maka dipahamhan Ada Zat Allah, begitu pula dengan bunyi I dan U, dipahamkan Ada Zat Allah dan jika semua bunyi itu (A.I.U) dipahamkan Ada Zat Allah, berarti segala bunyi/suara didalam alam, baik itu yang terbit atau datangnya dari alam Nasar yang empat (Tanah, Air, Angin dan Api) maupun yang datangnya dan keluar dari mulut makhluk Ada Zat Allah.

Penegasannya bunyi atau suara yang datang dan terbit dari apa saja kesemuanya itu berbunyi ALLAH, nama dari Zat yang maha Esa sedangkan huruf Alif itulah dasar (asal) dari huruf Arab yang banyaknya ada 28 huruf.

Dengan demikian maka jika kita melihat huruf Alif maka seakan-akan kita telah melihat 28 huruf yang ada. Lihat dan perhatikan sebuah biji pada tumbuh-tumbuhan, dari biji itulah asal usul segala urat, batang, daun, ranting, dahan dan buahnya.

Syuhudul Wahdah Fil Kasrah, Syuhudul Kasrah Fil Wahdah.

Pandang yang satu kepada yang banyak dan pandang yang banyak kepada yang satu maka yang ada hanya satu saja yaitu satu Zat dan dari Zat itulah datangnya Alam beserta isinya.

Al-Qur’an yang jumlah ayatnya 6666 ayat akan terhimpun kedalam Suratul Fatekha, dan Suratul Fatekha itu akan terhimpun pada Basmallah, dan Basmallah itupun akan terhimpun pada huruf BA, dan huruf BA akan terhimpun pada titiknya (Nuktah). Jika kita tilik dengan jeli maka titik itulah yang akan menjadi segala huruf, terlihat banyak padahal ia satu dan terlihat satu padahal ia banyak.
Selanjutnya Huruf-huruf lafald Allah yang telah digugurkan maka tinggallah empat huruf yang ada diatas lafald Allah tadi, yaitu huruf TASYDID (bergigi tiga, terdiri dari tiga huruf Alif) diatas Tasydid adalagi satu huruf Alif.

Keempat huruf Tasydid itu adalah isyarat bahwa Tuhan itu Ada, maka wajib bagi kita untuk mentauhidkan Asma Allah, Af’al Allah, Sifat Allah dan Zat Allah.
Langkah terakhir gugurkan keseluruhannya, maka yang akan tinggal adalah kosong.
LA SAUTUN WALA HARFUN, artinya tidak ada huruf dan tiada suara, inilah kalam Allah yang Qadim, tidak bercerai dan terpisah sifat dengan Zat.

Tarku Mayiwallah (meninggalkan selain Allah) Zat Allah saja yang ada.
La Maujuda Illallah (tidak ada yang ada hanya Allah).

Sembilan kali sudah kita menggugurkan kalimah Allah, seandainya juga belum dapat dipahami maka tanyakanlah kepada akhlinya.

<> MEMAHAMI AKU


Bismillahi rahmani rahim

Ketahuilah olehmu wahai anak-anakku akan siapakah yang dinamakan AKU itu barulah engkau tahu dan mengenal akan hakikat sebenar Rahsia Ketuhananmu.

Maka dengan ini ku lampirkan suatu keterangan buatmu dan ku bukakan tabir rahsia untukmu agar kau tahu dan mengerti apakah dan siapakah yang dimaksudkan kepada AKU.

AKU.

Adalah kalimah mufrad (satu) dan ia tidak mewakili mana-mana jenis samada lelaki atau pun wanita dan ia melepasi anggapan itu. 

AKU adalah satu hal yang tidak ada padanya gambaran yang nyata kerana ia bersifat tidak nyata (nagetif), dan sesungguhnya AKU itu adalah satu rahsia yang di tajjallikan oleh Tuhan dan ia menjadi penyata bagi Zatullah. AKU adalah merupakan Sifat Ketuhanan yang terbit dari Tuhan Yang Maha Kuasa.

Padanya pula terdiri akan Sifat-Sifat Kebesaran Tuhan kerana ia (aku) itu adalah Benyata bagi Zat Tuhan atau dengan kata lain dia (aku) itulah Kenyataan Tuhan.

Sesungguhnya Zatullah itu tidaklah dapat kita ketahui akan keadaan dirinya dan jauh sekali untuk kita mengatakan dia itu berupa dan macam-macam lagi, kerana ia LAISA KAMISLIHI SAI’UN ……..tidak menyerupai dengan sesuatu apa pun. Oleh kerana itulah Tuhan mahu memperkenalkan DIRINYA maka ia telah menyatakan akan Sifat Ketuhanan nya dan ia yang bernama AKU.

Dalam ilmu hakikat AKU ini digelarkan oleh mereka dengan nama AMAR ROBBI ….urusan tuhan, dan ia membawa makna kepada keadaan Tuhan padanya. Perlu di ingat AKU itu bukanlah Tuhan akan tetapi ianya Penyata yang dinyatakan Tuhan agar ia nyata maka apabila ia (aku) nyata maka nyatalah Kebesaran Tuhan itu, kerana kalau ia tidak nyata maka Kebesaran Tuhan tidak akan nyata dan kita tidak akan tahu yang tuhan itu ada walaupun ia ada.

Didalam ilmu yang kita perlajari ini saya ingin menyatakan bahawa AKU itu adalah Ketuhanan dan ia merupakan titik pertama yang dinyatakan Tuhan pada jasadku ini. Apabila ia berada didalam badan diri ini maka ia telah menjadi DIRI pula.

AKU yang tadinya merupakan titik atau noktah awal kini telah berkembang menjadi DIRI dan diri itulah Cahaya Ketuhanan yang dinyatakan Nya daripada nyalah (AKU) mendatangkan kehidupan kepada badan kita ini.

Pada AKU itu ada berbagai-bagai rahsia dan ia merupakan satu Khazanah Tuhan kepada kita ini. Asal kita mahu pasti kita akan dapat sesuatu darinya tetapi dengan syarat kita mesti mengenal dan mengetahui akan keadaaan nya.

AKU yang tidak berupa dan bertampan ini hanya mampu kau tahu sahaja kerana ianya satu hal yang terahsia pada keadaan sifat kezahiran rupa paras dan bentuk.

Oleh itu kau hanya mampu tahu dan merasai sahaja akan keberadaanku pada badan dirimu itu. AKU merupakan induk kepada kehidupan mu itu tanpaku kau akan mati.
Anak-anakku…….ketahuilah olehmu bahawa AKU itu adalah Ketuhanan dan pada nya ada beberapa Sifat yang telah digantungkan oleh Tuhan bagi menyatakan dan mendalilkan akan Kebesaran Tuhan dan dengan nya (sifat) ia dapat mentadbir alam badan diri ini. Sifat-sifat itu adalah……..

1) hayat
2) ilmu
3) qudrat
4) irodhat
5) sama’
6) basar
7) kalam

Inilah Sifat-Sifat Nya dan ia dipangil Sifat Ma’ani. Sebenarnya sifat-sifat ini ada pasangan nya dan ia terzahir dari pasangan itulah siapakah pasangan nya itu? Pasangan nya itu adalah Sifat Maknawiah iaitu……..

1) hayyun
2) alimun
3) qodirun
4) muriidun
5) sami’un
6) basirun
7) mutakalliman

Sifat-sifat ini adalah pasangan nya dan ia menunjukan akan keadaan Tuhan pada Kebesaran Nya itu….maka jelaslah bagi kita ini bahawa AKU itu membawa faham kepada kita dengan makna Ketuhanan (Kenyataan Tuhan).

Adalah Zat dan Sifat itu sebenarnya tidak terpisah dan saya tidaklah mengatakan ianya terpisah akan tetapi dalam menyatakan kalimah AKU ini saya menyatakan ianya adalah penyataan. Umpama lampu suluh mengeluarkan cahaya dan menyuluh dinding,cahaya pada dinding itu adalah cahayanya dan cahaya pada cermin lampu itupun cahaya nya oleh itu adakah cahaya yang berada pada dinding itu terpisah dari lampu dan cahaya pada cermin lampu itu…….

Tentu tidak bukan, walaupun ianya berjarak dengan jarak yang jauh, kerana ianya adalah tali bertali dari punca yang sama. Maka tali itulah bagi AKU ianya Sifat Ma’ani dan tali bagi penyambungnya itu adalah Sifat Maknawiah dan ia dari Tuhan jua datang nya. MANLA YAKRIF FALA YAKZUK…barang siapa tak mengenal maka tak akan merasai.

Anak-anakku kau perlu meletakkan fahaman mu itu dalam hal ini kepada kedudukan AKU kerana itulah asal dirimu dan asal dibalik asalmu itu adalah dari Zat jua adanya. Dan semua yang ada ini berasal dari nya iaitu daripada ilmunya.

Kau jangan bicara tentang keadaan zat tuhan kerana kau tak mampu untuk itu,cukuplah kau bicara tentang AKU kerana ia adalah asal mula dirimu dan darinya dirimu terbit,.kata orang bijak pandai “mengenal diri mengenal tuhan” dan AKU itulah Zat bagi diri dan diri itu kenyataanku.

AKU…….adalah kenyataan tuhan dan ia adalah sifat kesempunaan nya,bila AKU menerima badan maka diriku terbit mendatang pula dan aku lenyap didalamnya itulah saya mengatakan ianya adalah zat diri,bukan zat tuhan.kerana AKU adalah AKU dan AKU bukan TUHAN dan TUHAN adalah TUHAN dan TUHAN bukan AKU,akan tetapi AKU datangnya dari TUHAN.

AKULAH ………………..ketuhanan.

Renungilah olehmu dengan pandangan basirahmu agar kau tahu dan mengerti dan temuilah AKU,kehidupan yang kita ada ini merupakan dalil penyataan af’al (perbuatan) AKU yang mana ia terjadi melalui proses-proses semulajadi.AKU…..yang menanggung amanah dari tuhan membawa dan menerima suatu tugas yang besar didalam menjalani kehidupan didunia maupun akhirat.

Ingat-ingatlah wahai anak-anakku………..dalam perjalanan ini pastikan kau meletakkan semua pengharapan kepada AKU kerana AKU itu cukup mencukupi bagi mu.rahsia ilahi yang maha kuasa itulah yang menjadi bekalanmu.AKU……..yang hidup tiada mati,kekal tiada binasa menjadi diri bagi badanku sendiri dan kini AKU bergerak pada jalanku iaitu jalan rahsia ilahi………..

AKU adalah Rahsia Tuhan Menyata Sifat Yang Maha EsaKini aku telah berbadan …Hidup didunia sebagai hamba.

<> SYAHADAH SEBENARNYA


Rukun syahadah 4 perkara:
1. mengisbatkan zat Allah
2. mengisbatkan sifat Allah
3. mengisbatkan af’al Allah
4. mengisbatkan kebenaran Rasulullah

Syarat sah syahadah:
1. diketahui
2. diiqrarkan
3. ditasdiqkan
4. diamalkan

Binasa syahadah 4 perkara:
1. menduakan Allah
2. syak dan waham di dalam hati
3. menyangkal dirinya dijadikan oleh Allah
4. tidak mengisbatkan zat Allah

Syahadah terbahagi kepada 3 bahagian:
1. syahadah syariat
2. syahadah tareqat
3. syahadah haqiqat
Syahadah syariat – mengucap syahadatain serta dikerjakan yang disuruh dan meninggalkan yang ditegah
Syahadah tareqat – hendaklah kita melihat dengan sepenuhnya segala perkara yang terjadi pada kita dan sekalian makhluk samada baik atau jahat, semuanya datang dari Allah dengan qudrah dan iradahNya, serta ikhlas kita kepadaNya.
Syahadah haqiqat – apabila kita sudah mengetahui dan yakini dengan sepenuhnya pada hati kita , dan diucapkan dengan syahadatain, iaitu telah nyata apa yang kita lihat dengan mata zahir, mata hati dan mata sir akan setiap perbuatan Allah dengan qudrah dan iradahNya. Maka zahirlah wujud itu di dalam setiap hal dan keadaan, sehingga kita pandang dengan mata sirr kita, tiada wujud yang lain melainkan wujud Allah semata-mata.
Syahadah ada 2 macam iaitu syahadah kamilah dan syahadah sirr. Syahadah sirr itu di hati, tidak lahir syahadah roh itu melainkan dengan syahadah kamilah. Jadi, kedatangan syahadah itu adalah disebabkan adanya roh. Jika tiada roh, tiadalah syahadah itu. Roh itu adalah sir Allah, zahir itu jadi kenyataan, inilah yang dikatakan kalimah kamilah @ sempurna, barulah sempurna kalimah syahadah yang kita syahadahkan, kerana kamilah itu adalah sirr. Jika seseorang tidak tahu kalimah sirr itu, maka pastilah (yakin) pada seseorang itu mengaku bahawa syahadah itu adalah syahadahnya.
Maka yang ada pada kita itu adalah untuk menyatakan anasir zat iaitu wujud, ilmu, nur dan syuhud @ zatNya, sifatNya, asmaNya dan af’alNya. Inilah yang dikatakan tajalli zat @ dikatakan syahadah. Jadi sifat ma’ani itulah syahadah @ kenyataan, yakni syahadah kamilah. Dan nyata syahadah kamilah itu dengan adanya syahadah sirr. Apa yang menjadi sirr ialah wujud, ilmu, nur dan syuhud.
Kamilah iaitu alam roh, alam mithal, alam ijsam dan alam insan yang ada pada makhluk khususnya pada Muhammad, kerana Muhammad adalah amanah. Yang menjadi amanah (hayat) iaitu alam roh. Hidup inilah yang hendak menyatakan zatNya, sifatNya, asmaNya dan af’alNya.
Kalau kita memahami dengan sebenar-benarnya faham, bahawa kita diibaratkan duduk di dalam lautan. Cuma kita tidak sedar kerana kita tidak lemas. Tetapi jika kita tahu, sememangnya kita lemas, kerana setiap orang yang berada di dalam lautan sudah semestinya lemas. Oleh kerana seseorang itu tidak sedar akan duduknya di dalam lautan, jadi sangkaannya “hidup” ini kepunyaannya, kerana dia belum mati. Inilah perbezaan antara orang yang tiada ilmu makrifah. Pada ahli makrifah, bahawa dia duduk di dalam lautan iaitu maul hayat @ lautan ahdah.
Maka mengambil ibarat antara cermin dengan bayang di dalam cermin. Jasad ini ibarat cermin dan gambar di dalam cermin itu adalah benda di hadapan cermin. Maka di hadapan cermin itulah gambarnya. Apa yang menjadi gambar kepada kita ialah hayat, ilmu, qudrah, iradah, sama’, basar dan kalam.
Gambar di hadapan kita iaitu nafas yang turun naik dan membawa segala perubahan. Maka sesiapa yang dapat memandang itu, lemaslah ia. Dan setiap yang lemas itu harus mati. Apabila sudah mati, yang hidup itu barulah zahir nama Allah iaitu hayyum, ‘alimun, qadirun, muridun, sami’un, basirun dan mutakallimun. Itulah syahadah!!!
Seperti ahli tahqiq menyatakan, “ Tukarlah cahaya dirimu itu dengan digantikan dengan cahaya Tuhannya”. Dan syahadah inilah yang terkandung di dalam 3 potong ayat iaitu;
1. Akulah Allah, tiada tuhan melainkan Aku
2. Maha suci Allah itu satu daripada tiga
3. Dan Allah menjadikan kamu dan setiap apa yang kamu lakukan
Setiap kejadian itu daripada Allah jua. Maka tidak zahir amanah itu melainkan dizahirkan manusia, kerana manusia itu sanggup menerima amanah.

<> KISAH PENCIPTAAN ROH MUHAMMAD

Saat Allah Subhanahu wa Ta’ala mengeluarkan keputusan Ilahiah untuk mewujudkan makhluq, Ia pun menciptakan Haqiqat Muhammadaniyyah (Realiti Muhammad –Nuur Muhammad) dari Cahaya-Nya. Ia Subhanahu wa Ta’ala kemudian menciptakan dari Haqiqat ini keseluruhan alam, baik alam atas mahupun bawah. Allah Subhanahu wa Ta’ala kemudian memberitahu Muhammad akan Kenabiannya, sementara saat itu Adam masih belum berbentuk apa-apa kecuali berupa ruh dan badan. Kemudian darinya (dari Muhammad) keluar tercipta sumber-sumber dari ruh, yang membuat beliau lebih luhur dibandingkan seluruh makhluq ciptaan lainnya, dan menjadikannya pula ayah dari semua makhluq yang wujud. Dalam Sahih Muslim, Nabi (SAW) bersabda bahawa Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menulis Taqdir seluruh makhluq lima puluh ribu tahun (dan tahun di sisi Allah adalah berbeda dari tahun manusia, peny.) sebelum Ia menciptakan Langit dan Bumi, dan `Arasy-Nya berada di atas Air, dan di antara hal-hal yang telah tertulis dalam ad-Dzikir, yang merupakan Umm al-Kitab (induk Kitab), adalah bahawa Muhammad sall-Allahu ‘alayhi wasallam adalah Penutup para Nabi. Al Irbadh ibn Sariya, berkata bahawa Nabi sall-Allahu ‘alayhi wasallam bersabda, “Menurut Allah, aku sudah menjadi Penutup Para Nabi, ketika Adam masih dalam bentuk tanah liat.”
Maysara al-Dhabbi (ra) berkata bahawa ia bertanya pada Nabi sall-Allahu ‘alayhi wasallam, “Ya RasulAllah, bilakah Anda menjadi seorang Nabi?” Beliau sall-Allahu ‘alayhi wasallam menjawab, “Ketika Adam masih di antara ruh dan badannya.”
Suhail bin Salih Al-Hamadani berkata, “Aku bertanya pada Abu Ja’far Muhammad ibn `Ali radiy-Allahu ‘anhu, `Bagaimanakah Nabi Muhammad sall-Allahu ‘alayhi wasallam bisa mendahului nabi-nabi lain sedangkan beliau akan diutus paling akhir?” Abu Ja’far radiy-Allahu ‘anhu menjawab bahawa ketika Allah menciptakan anak-anak Adam (manusia) dan menyuruh mereka bersaksi tentang Diri-Nya (menjawab pertanyaan-Nya, `Bukankah Aku ini Tuhanmu?’), Muhammad sall-Allahu ‘alayhi wasallam-lah yang pertama menjawab `Ya!’ Kerana itu, beliau mendahului seluruh nabi-nabi, sekalipun beliau diutus paling akhir.”
Al-Syaikh Taqiyu d-Diin Al-Subki mengomentari hadits ini dengan mengatakan bahawa kerana Allah Ta’ala menciptakan arwah (jamak dari ruh) sebelum tubuh fisik, perkataan Muhammad sall-Allahu ‘alayhi wasallam “Aku adalah seorang Nabi,” ini mengacu pada roh suci beliau, mengacu pada hakikat beliau; dan akal fikiran kita tak mampu memahami hakikat-hakikat ini. Tak seorang pun memahaminya kecuali Dia yang menciptakannya, dan mereka yang telah Allah dukung dengan Nur Ilahiah.
Jadi, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengurniakan kenabian pada ruh Nabi sall-Allahu ‘alayhi wasallam bahkan sebelum penciptaan Adam; yang Ia telah ciptakan ruh itu, dan Ia limpahkan barakah tak berhingga atas ciptaan ini, dengan menuliskan nama Muhammad sall-Allahu ‘alayhi wasallam pada `Arasy Ilahiah, dan memberitahu para Malaikat dan lainnya akan penghargaan-Nya yang tinggi bagi beliau (sall-Allahu ‘alayhi wasallam). Dus, Haqiqat Nabi Muhammad sall-Allahu ‘alayhi wasallam telah wujud sejak saat itu, meski tubuh ragawinya baru diciptakan kemudian. Al Syi’bi meriwayatkan bahawa seorang laki-laki bertanya, “Ya RasulAllah, bilakah Anda menjadi seorang Nabi?” Beliau menjawab, “ketika Adam masih di antara roh dan badannya, ketika janji dibuat atasku.” Kerana itulah, beliau (sall-Allahu ‘alayhi wasallam) adalah yang pertama diciptakan di antara para Nabi, dan yang terakhir diutus.
Diriwayatkan bahawa Nabi (sall-Allahu ‘alayhi wasallam) adalah satu-satunya yang diciptakan keluar dari sulbi Adam sebelum ruh Adam ditiupkan pada badannya, kerana beliau (sall-Allahu ‘alayhi wasallam) adalah sebab dari diciptakannya manusia, beliau (sall-Allahu ‘alayhi wasallam) adalah junjungan mereka, substansi mereka, ekstraksi mereka, dan mahkota dari kalung mereka.
`Ali ibn Abi Thalib karram-Allahu wajhahu dan Ibn `Abbas radiy-Allahu ‘anhukeduanya meriwayatkan bahawa Nabi (sall-Allahu ‘alayhi wasallam) bersabda, “Allah tak pernah mengutus seorang nabi, dari Adam dan seterusnya, melainkan sang Nabi itu harus melakukan perjanjian dengan-Nya berkenaan dengan Muhammad (sall-Allahu ‘alayhi wasallam): seandainya Muhammad (SAW) diutus di masa hidup sang Nabi itu, maka ia harus beriman pada beliau (sall-Allahu ‘alayhi wasallam) dan mendukung beliau (sall-Allahu ‘alayhi wasallam), dan Nabi itu pun harus mengambil janji yang serupa dari ummatnya.
Diriwayatkan bahawa ketika Allah SWT menciptakan Nur Nabi kita Muhammad sall-Allahu ‘alayhi wasallam, Ia Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan padanya untuk memandang pada nur-nur dari Nabi-nabi lainnya. Cahaya beliau melingkupi cahaya mereka semua, dan Allah SWT membuat mereka berbicara, dan mereka pun berkata, “Wahai, Tuhan kami, siapakah yang meliputi diri kami dengan cahayanya?” AllahSubhanahu wa Ta’ala menjawab, “Ini adalah cahaya dari Muhammad ibn `Abdullah; jika kalian beriman padanya akan Kujadikan kalian sebagai nabi-nabi.” Mereka menjawab, “Kami beriman padanya dan pada kenabiannya.” Allah berfirman, “Apakah Aku menjadi saksimu?” Mereka menjawab, “Ya.” Allah berfirman, “Apakah kalian setuju, dan mengambil perjanjian dengan-Ku ini sebagai mengikat dirimu?” Mereka menjawab, “Kami setuju.” Allah berfirman, “Maka saksikanlah (hai para Nabi), dan Aku menjadi saksi (pula) bersamamu.”(QS 3:81).
Inilah makna dari firman Allah Subhanahu wa Ta’ala. “Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil perjanjian dari para nabi: `Sungguh, apa saja yang Aku berikan kepadamu berupa kitab dan hikmah, kemudian datang kepadamu seorang Rasul yang membenarkan apa yang ada padamu, nescaya kamu akan sungguh-sungguh beriman kepadanya dan menolongnya.’” (QS 3:81).
Syaikh Taqiyyud Diin al-Subki mengatakan, “Dalam ayat mulia ini, tampak jelas penghormatan kepada Nabi (sall-Allahu ‘alayhi wasallam) dan pujian atas kemuliaannya. Ayat ini juga menunjukkan bahawa seandainya beliau diutus di zaman Nabi-nabi lain itu, maka risalah da’wah beliau pun harus diikuti oleh mereka. Kerana itulah, kenabiannya dan risalahnya adalah universal dan umum bagi seluruh ciptaan dari masa Adam hingga hari Pembalasan, dan seluruh Nabi beserta ummat mereka adalah termasuk pula dalam ummat beliau sall-Allahu ‘alayhi wasallam. Jadi, sabda sayyidina Muhammad (sall-Allahu ‘alayhi wasallam), “Aku telah diutus bagi seluruh ummat manusia,” bukan hanya ditujukan bagi orang-orang di zaman beliau hingga Hari Pembalasan, tapi juga meliputi mereka yang hidup sebelumnya. Hal ini menjelaskan lebih jauh perkataan beliau, “Aku adalah seorang Nabi ketika Adam masih di antara ruh dan badannya.” Berpijak dari hal ini, Muhammad (sall-Allahu ‘alayhi wasallam) adalah Nabi dari para nabi, sebagaimana telah pula jelas saat malam Isra’ Mi’raj, saat mana para Nabi melakukan salat berjama’ah di belakang beliau (yang bertindak selaku Imam). Keunggulan beliau ini akan menjadi jelas nanti di Akhirat, saat seluruh Nabi akan berkumpul di bawah bendera beliau.
Allahumma salli afdalas salaati ‘ala habiibikal Mushtofa Sayyidina Muhammadin wa ‘ala aalihi wasahbihi wasallaam

<> MAKSUD KALIMAH TAUHID

HADITH QUDSI = Wahi / wahyu yang diturunkan Allah menurut perkataan Nabi itu sendiri. Allah berkata kepada Nabi dalam bentuk jasmani Nabi, dalam bentuk Malaki Nabi, dalam bentuk Ruh Nabi. Dalam yang pertama itu Allah berkata-kata dalam perkataan perkataan bahasa, dalam yang kedua dalam bentuk awalan awalan surah surah tertentu ( huruf muqatta ) dalam yang ketiga dalam bahasa keruhanian.

HULUL = penjelmaan
HADI = orang yang membimbing ke jalan yang benar
HAL = keadaan dzauk
HUKAMA = ahli ahli falasafah
HIJAB = tabir
IBLIS = sangkaan tentang yang lain daripada Allah
ILMI SINA = ilmu yang disampaikan dari hari kehati

MAKSUD KALIMAH TAUHID

KALIMAH TAUHID peringkat khusus yaitu yang diertikan dengan qasad :-.

Aku mengaku bersaksikan diriku sendiri bahawa tiada yang nyata dalam diriku melainkan Zat Allah semata-mata.

Maksudnya ialah tiada wujud manusia itu pada hakikatnya . Yang wujud ialah Allah semata-mata tiada yang lain ( La Maujuda Ilallah ). Inilah Kalimah Tauhid Insan membawa pengertian bahawa hidupnya manusia itu dengan Hayat Allah , bergerak manusia itu dengan Kudrat Allah dan seterusnya.

MAKSUD KALIMAH RASUL

KALIMAH RASUL ditashdiqkan sebagai : -

Aku mengaku bersaksikan diriku sendiri bahawa Akulah Muhammad menyampaikan Hak Allah. Yang membawa maksud bahawa YANG BERSUARA itu ( Ruh / Nyawa ) mengaku disaksikan oleh YANG MENYAMPAIKAN SUARA itu ( Jasad ) bahawa Yang Bersuara itu adalah penyampai ( Rasul ) Sifat Sifat Allah kepada jasad / tubuh badan.

Rasul ini disebut / dinamakan sebagai MUHAMMAD MUSTAFA RASUL ALLAH.

TAHAP TAUHID TAUHID mengikut IMAM AL-GHAZALI

Imam Ghazali menceritakan tahap tahap tauhid manusia itu dengan mithalan yang indah sekali didalam kitabnya IHYA ULUMIDDIN. Beliau mengibaratkan tahap tauhid manusia itu umpama sebiji kelapa.

Lapisan yang luar itu yang sangat nipis – ianya hijau bila kelapa itu muda dan menjadi coklat kehitaman apabila buah kelapa itu tua. Lapisan ini gunanya Cuma untuk menandakan umur kelapa itu tiada guna yang lain. Seorang bukan islam yang mengucapkan kalimah syahadah tanpa apa apa erti dihatinya umpama lapisan nipis inilah. Tiada apa gunanya sebutan itu.

Dibawah lapisan nipis itu ialah bahagian yang paling tebal pada kelapa itu. Ianya dipanggil sabut. Gunanya pada kelapa ialah untuk menahan hentakan ketika kelapa masak jatuh kebumi. Gunanya kepada manusia mungkin menjadi penghalau nyamuk, penyentah tahi ayam atau bahan kerusi kereta.

Imam Ghazali mengumpamakan sabut kelapa ini sebagai IMAN ORANG AWAM YANG RAMAI itu ( sabut bahagain paling tebal pada sebiji buah kelapa )
Yang ramai itulah yang mengtashdiqkan Dua Kalimah Syahadah sebagai : Aku naik saksi bahawa tiada Tuhan yang disembah melainkan Allah dan aku naik saksi bahawa Nabi Muhammad itu adalah Pesuruh Allah.

Barangkali inilah maksud hadith Nabi yang bermaksud : janganlah kamu ikut orang yang ramai itu , kerana yang ramai itu menyesatkan kamu. Barangkali sahaja tetapi anda tentukanlah untuk diri anda sendiri sama ada mahu mengikut yang ramai itu ?

Dibawah sabut ialah tempurung dimana isi kelapa melekat. Kegunaan tempurung pada manusia adalah kegunaan peringkat rendah. 

Pada Imam Ghazali tempurung diibaratkannya sebagai Tauhid Peringkat Ketiga. Manakala isi kelapa yang mengandungi santan itu diumpamakannya sebagai Tauhid Peringkat Tertinggi.

Ianya umpama RASA LEMAK SANTAN didalam santan kelapa itu. Rasa lemak inilah yang dikatakan sebagai ZAT KELAPA. Bila rasa lemak / zat dikeluarkan maka isi kelapa itu akan dikenali sebagai hampas kelapa.

Yang dicari oleh seseorang manusia yang arif didalam sebiji kelapa ialah RASA LEMAK kelapa itu. Orang yang arif yang mencari rasa lemak ini diumpamakan oleh Imam Ghazali sebagai orang yang bertauhidkan pada tauhid peringkat tertinggi yang bertashdiq bahawa :-

TIADA YANG WUJUD DI-SELURUH ALAM MAYAPADA INI MELAINKAN ZAT MUTLAK ALLAH SEMATA-MATA.

YANG ADA / WUJUD HANYA ALLAH MENTAJALLIKAN DIRINYA MELALUI NAMA NAMA & SIFAT SIFATNYA KEDALAM SETIAP YANG KELIHATAN WUJUD.

Tiada GHAYR – tiada yang lain. LA MAUJUDA ILLALLAH.

PENDAPAT IBNU ARABI

Manakala Ibnu Arabi pula mengatakan bahawa tiadalah sama antara orang yang beriman dengan orang yang ARIF. 

Iman itu adalah umum dan biasa untuk orang awam dan orang biasa. Arif adalah khusus untuk orang khusus mengatasi IMAN dengan mengetahui HAKIKAT IMAN itu sendiri. 

Pada hakikatnya orang Arif sudah pasti beriman manakala orang beriman ramai yang tidak arif. Maka diperentahkanlah sembahyang itu kepada orang yang beriman.

<> LETAK NERAKA DAN SURGA

Rekomendasi utama adalah kitab 'Yaqzhatu Ulil I'tibar mimma Warada Fi Dzikrin Nar wa Ashhabin Nar' (Kewaspadaan bagi Orang yang Mau Mengambil Pelajaran dari Keterangan yang Menuturkan Tentang Neraka dan Para Penghuninya) karangan Shiddiq Hasan Khan.
Saya tidak menjumpai keterangan semacam di atas. Yang agak serupa, terdapat pendapat neraka terdapat di bumi lapisan ke tujuh (bukan ke satu), di mana pendapat ini adalah salah satu dari sekian pendapat berbeda yang berupa:

- Neraka terdapat di langit, mengambil dalil hadits Hudzaifah tentang Nabi shallallahu 'alaihi wasallam sewaktu mi'raj di langit melihat surga dan neraka.
- Neraka terdapat di bawah bumi lapisan ke tujuh, mengambil dalil dari hadits riwayat Ibnu Abbas dan Mu'adz.
- Neraka terdapat di permukaan bumi tanpa diketahui lokasi persisnya, dikemukakan oleh al-Qurthubi. - Neraka pembahasannya mauquf, tidak bisa diketahui lokasinya dikarenakan semua hadits yang menyebutkan tempat neraka belum bisa dijadikan pegangan, ini adalah pendapat yang disepakati oleh banyak ulama seperti as-Suyuthi, Waliyullah ad-Dahlawi, dan Shiddiq Hasan Khan.

وقيل إن النار فى السماء كالجنة لما روى أحمد من حديث حذيفة رضى الله عنه عن النبي قال أتيت بالبراق فلم نزايل طرفة عين أنا وجبريل حتى أتيت بيت المقدس وفتحت لنا أبواب السماء ورأيت الجنة والنار -الى أن قال-
قال الحافظ ابن رجب وحديث حذيفة إن ثبت فالسماء ظرف للرؤية لا للمرئى وفى حديث ضعيف جدا أنه رأى الجنة والنار فوق السموات فلو صح على حمل ما ذكرنا 
والحاصل أن الجنة فوق السماء السابعة وسقفها العرش وإن النار فى الأرض السابعة على الصحيح المعتمد وبالله التوفيق انتهى -الى أن قال-
ومثله فى التذكرة للقرطبى قال فهذا يدل على أن جهنم على وجه الأرض والله أعلم بموضعها وأين هى من الأرض انتهى -الى أن قال-
وتقف عن النار أي تقول فيها بالوقف أى محلها حيث لا يعلمه إلا الله فلم يثبت عندى حديث اعتمده فى ذلك -الى أن قال-
وقال قال الشيخ أحمد ولى الله المحدث الدهلوى فى عقيدته ولم يصرح نص بتعين مكانهما بل حيث شاء الله تعالى إذ لا إحاطة لنا بخلق الله وعوالمه انتهى 
أقول وهذا القول أرجح الأقوال وأحوطها إن شاء الله تعالى
الكتاب : يقظة أولي الاعتبار مما ورد في ذكر النار وأصحاب النار ص48-45

Perpaduan Al Qur’an dengan hasil penelitian ilmiah tentang asal-usul manusia pertama.
Terwujudnya alam semesta ini berikut segala isinya diciptakan oleh Allah dalam waktu enam masa. hal ini sesuai dengan firman Allah :

الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأرض وَمَا بَيْنَهُمَا فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ الرَّحْمَنُ فَاسْأَلْ بِهِ خَبِيراً

"Yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada iantara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam diatas Arsy (Dialah) Yang Maha Pemurah, maka tanyakanlah itu kepada Yang Maha Mengetahui." (QS. Al Furqaan (25) : 59)

Keenam masa itu adalah :
Azoikum,... Ercheozoikum,... Protovozoikum,...Palaeozoikum,... Mesozoikum, dan Cenozoikum.
Dari penelitian para ahli, setiap periode menunjukkan perubahan dan perkembangan yang bertahap menurut susunan organisme yang sesuai dengan ukuran dan kadarnya masing-masing. (tidak berevolusi).

الَّذِي لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَلَمْ يَتَّخِذْ وَلَداً وَلَمْ يَكُنْ لَهُ شَرِيكٌ فِي الْمُلْكِ وَخَلَقَ كُلَّ شَيْءٍ فَقَدَّرَهُ تَقْدِيراً
"yang kepunyaan-Nya-lah kerajaan langit dan bumi, dan Dia tidak mempunyai anak, dan tidak ada sekutu bagi-Nya dalam kekuasaan [Nya], dan Dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya" (QS. Al Furqaan (25) : 2)

Dari perpaduan antara Al Qur’an dengan hasil penelitian ini maka teori evolusi Darwin tidak dapat diterima. Dari penelitian membuktikan bahwa kurun akhir (cenozoikum) adalah masa dimana mulai muncul manusia yang berbudaya dan Allah menciptakan lima kurun sebelumnya lengkap dengan segala isinya adalah untuk memenuhi kebutuhan yang diperlukan oleh manusia.

Dari keterangan
di atas, memang sangat bertentangan
>> Isykal itu dijawab oleh Ibnu Rajab, bahwa yang berada di atas (sebagai zharaf) adalah penglihatan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, sedang neraka yang dilihat tidak harus di atas, melainkan di bumi (dari atas melihat ke bawah).
قال الحافظ ابن رجب وحديث حذيفة إن ثبت فالسماء ظرف للرؤية لا للمرئى وفى حديث ضعيف جدا أنه رأى الجنة والنار فوق السموات فلو صح على حمل ما ذكرنا

Hadits riwayat Ibnu Abbas:
وعن عبد الله ابن سلام قال قال أكرم خليفة الله أبو القاسم إن الجنة فى السماء أخرجه أبو نعيم وعنده أيضا عن ابن عباس أن الجنة فى السماء السابعة ويجعلها الله تعالى حيث شاء يوم القيامة وجهنم فى الأرض السابعة

Hadits riwayat Mu'adz ibn Jabbal:
وعن معاذ بن جبل رضى الله عنه سئل رسول الله أين يجاء بجهنم يوم القيامة قال يجاء بها من الأرض السابعة لها سبعون ألف زمام يتعلق بكل زمام سبعون ألف ملك تصيح إلى أهلى إلى أهلى فإذا كانت من العباد على مسير مائة سنة زفرت زفرة فلا يبقى ملك مقرب ولا نبى مرسل إلا جثى على ركبتيه فيقول رب نفسى نفسى وأخرجه جويبر فى تفسيره

Apabila Bumi yang kita pijak, adalah lapisan ke-1, itu berarti Neraka ada pada lapisan ke-7,
Dari keterangan di atas, memang sangat bertentangan antara:

- Neraka terdapat di langit, mengambil dalil hadits Hudzaifah tentang Nabi shallallahu 'alaihi wasallam sewaktu mi'raj di langit melihat surga dan neraka.

&

- Neraka terdapat di bawah bumi lapisan ke tujuh, mengambil dalil dari hadits riwayat Ibnu Abbas dan Mu'adz.



Wallahu a'lam.


Agar lebih memberikan
pemahaman yang utuh, berikut adalah redaksi dan terjemahan satu bab utuh dari kitab Yaqzhah:

 باب فى ذكر مكان النار وأين هى على مقتضى الآثار وكذا مكان الجنة
 فاعلم أن الجنة فوق السماء السابعة وسقفها عرش الرحمن كما قال تعالى فى محكم القرآن ولقد رآه نزلة أخرى عند سدرة المنتهى عندها جنة المأوى وقد ثبت أن سدرة المنتهى فوق السماء السابعة وقال تعالى وفى السماء رزقكم وما توعدون قال مجاهد هو الجنة وتلقاه الناس عنه رواه ابن أبى نجيح وفى رواية عنه هو الجنة والنار حكاه ابن المنذر فى تفسيره
 وعن عبد الله ابن سلام قال قال أكرم خليفة الله أبو القاسم إن الجنة فى السماء أخرجه أبو نعيم وعنده أيضا عن ابن عباس أن الجنة فى السماء السابعة ويجعلها الله تعالى حيث شاء يوم القيامة وجهنم فى الأرض السابعة وعن ابن مسعود رضى الله عنه الجنة فى السماء السابعة فإذا كان يوم القيامة جعلها الله حيث شاء والنار فى الأرض السابعة فإذا كان يوم القيامة جعلها الله حيث شاء أخرجه ابن مندة
 وقال مجاهد قلت لابن عباس أين الجنة قال فوق سبع سموات قلت فأين النار قال تحت سبعة أبحر مطبقة رواه ابن منده قال الشوكانى فى فتح القدير والأولى الحمل على ما هو الأعم من هذه الأقوال فان جزاء الأعمال مكتوب فى السماء والقدر والقضاء ينزل منها والجنة والنار فيها انتهى
 وعن ابن عمر رضى الله عنه قال قال رسول الله إن جهنم محيطة بالدنيا وإن الجنة وراءها فلذلك كان الصراط على جهنم طريقا إلى الجنة أخرجه أبونعيم فى تاريخ أصبهان
 وعن معاذ بن جبل رضى الله عنه سئل رسول الله أين يجاء بجهنم يوم القيامة قال يجاء بها من الأرض السابعة لها سبعون ألف زمام يتعلق بكل زمام سبعون ألف ملك تصيح إلى أهلى إلى أهلى فإذا كانت من العباد على مسير مائة سنة زفرت زفرة فلا يبقى ملك مقرب ولا نبى مرسل إلا جثى على ركبتيه فيقول رب نفسى نفسى وأخرجه جويبر فى تفسيره
 وعن يعلى بن أمية رضى الله عنه أن النبي قال البحر هو جهنم أخرجه أحمد والبيهقى بسند رجاله ثقات وعن سعيد بن أبى الحسين قال البحر طبق جهنم أخرجه أحمد فى الزهد وعن على بن أبى طالب رضى الله عنه قال ما رأيت يهوديا أصدق من فلان زعم أن نار الله الكبرى هى البحر فاذا كان يوم القيامة جمع الله فيه الشمس والقمر والنجوم ثم بعث عليه الدبور فسعرته أخرجه أبو الشيخ فى العظمة والبيهقى من طريق سعيد بن المسيب
 وعن كعب فى قوله تعالى والبحر المسجور قال البحر يسجر فيصير جهنم أخرجه أبو الشيخ وعن وهب بن منبه أنه قال إذا قامت القيامة أمر بالفلق فيكشف عن سقر وهو غطاؤها فتخرج منه نار فاذا وصلت إلى البحر المطبق على شفير جهنم وهو بحر البحور نشفته أسرع من طرف العين وهو حاجز بين جهنم والأرضين السبع فاذا نشفت اشتعلت فى الأرضين السبع فتدعها جمرة واحدة أخرجه البيهقى فى شعب الإيمان
 وقيل إن النار فى السماء كالجنة لما روى أحمد من حديث حذيفة رضى الله عنه عن النبي قال أتيت بالبراق فلم نزايل طرفة عين أنا وجبريل حتى أتيت بيت المقدس وفتحت لنا أبواب السماء ورأيت الجنة والنار وأخرج أيضا عن النبي أنه قال رأيت ليلة أسرى بى الجنة والنار
 فى السماء وقرأ هذه الآية وفى السماء رزقكم وما توعدون فكأنى لم أقرأها
 قال السفارينى وليس فى هذا ونحوه حجة على أن النار فى السماء لجواز أن يراها فى الأرض وهو فى السماء وهذا الميت يرى وهو فى قبره الجنة والنار وليست الجنة فى الأرض وثبت أنه رآهما وهو فى صلاةالكسوف وهو فى الأرض
 قال الحافظ ابن رجب وحديث حذيفة إن ثبت فالسماء ظرف للرؤية لا للمرئى وفى حديث ضعيف جدا أنه رأى الجنة والنار فوق السموات فلو صح على حمل ما ذكرنا
 والحاصل أن الجنة فوق السماء السابعة وسقفها العرش وإن النار فى الأرض السابعة على الصحيح المعتمد وبالله التوفيق انتهى
 أقول قال السيوطى فى اتمام الدراية شرح النقاية ونعتقد أن الجنة فى السماء وقيل فى الأرض وقيل بالوقف حيث لا يعلمه إلا الله والذى اخترته هو المفهوم من سياق القرآن والحديث كقوله تعالى فى قصة آدم قلنا اهبطوا منها وفى الصحيح سلوا الله الفردوس فإنه أعلى الجنة وفوقه عرش الرحمن ومنه تفجر أنهار الجنة وفى صحيح مسلم أرواح الشهداء في حواصل طيور خضر تسرح من الجنة حيث شاءت ثم تأوى إلى قناديل معلقة بالعرش وتقف عن النار أي تقول فيها بالوقف أى محلها حيث لا يعلمه إلا الله فلم يثبت عندى حديث اعتمده فى ذلك وقيل تحت الأرض لما روى ابن عبد البر وضعفه من حديث ابن عمر مرفوعا لا يركب البحر إلا غاز أو حاج أو معتمر فان تحت البحر نارا وروى عنه أيضا موقوفا لا يتوضأ بماء البحر لأنه طبق جهنم وضعفه وقيل هى على وجه الأرض لما روى وهب أيضا
 قال أشرف ذو القرنين على جبل قاف فرأى تحته جبالا صغارا إلى أن قال يا قاف أخبرنى عن عظمة الله فقال إن شأن ربنا لعظيم إن ورائى أرضا مسيرة خمسمائة عام فى خمسمائة عام من جبال ثلج يحطم بعضها بعضا ولولا هى لاحترقت من جهنم وروى الحارث بن أسامة فى مسنده عن عبد الله بن سلام قال الجنة فى السماء والنار فى الأرض وقيل محلها فى السماء انتهى كلام السيوطى ومثله فى التذكرة للقرطبى قال فهذا يدل على أن جهنم على وجه الأرض والله أعلم بموضعها وأين هى من الأرض انتهى
 وقال قال الشيخ أحمد ولى الله المحدث الدهلوى فى عقيدته ولم يصرح نص بتعين مكانهما بل حيث شاء الله تعالى إذ لا إحاطة لنا بخلق الله وعوالمه انتهى  أقول وهذا القول أرجح الأقوال وأحوطها إن شاء الله تعالى


Bab Tentang Penuturan Letak Neraka Serta Di Mana Tempatnya Mengacu Pada Keterangan
Hadits; Begitu Juga Letak surga

Ketahuilah bahwa surga itu di atas langit ketujuh di mana atap surga adalah 'arsy Allah Ar-Rahman, sebagaimana firman Allah dalam ayat muhkamNya: "Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain. (yaitu) Di Sidratil Muntaha. Di dekatnya ada surga tempat tinggal," (QS. An-Najm: 13-15). Sedangkan telah diketahui bahwa sidratul muntaha terletak di atas langit ketujuh, Allah berfirman: "Dan di langit terdapat (sebab-sebab) rizqimu dan terdapat (pula) apa yang dijanjikan kepadamu" (QS. Adz-Dzariyat: 22).
Diriwayatkan dalam atsar oleh Ibnu Abi Nujaih, dari Mujahid berkata: Itu adalah surga, Allah melimpahkan rizqi dari surgaNya.
Diceritakan oleh Ibnu Mundzir dalam Tafsirnya mengenai riwayat atsar lain dari Mujahid: Itu adalah surga dan neraka.

Diriwayatkan dalam atsar oleh Abu Nu'aim, dari Abdullah ibn Salam berkata - semoga Allah memuliakan khalifahNya Abu Qasim shallallahu 'alaihi wasallam- Sesungguhnya surga ada di langit.
Dalam riwayat atsar lain olehnya, dari Ibnu Abbas: Sesungguhnya surga ada di langit yang ketujuh, dan Allah menjadikan surga sebagaimana yang Dia kehendaki di hari kiamat. Serta neraka jahannam ada di bumi yang ketujuh.
Dikeluarkan atsar oleh Ibnu Mandah dari Ibnu Mas'ud berkata: Surga ada di langit yang ketujuh, dan ketika datang hari kiamat maka Allah menjadikan surga sebagaimana yang Dia kehendaki. Serta neraka ada di bumi yang ketujuh, dan ketika datang hari kiamat maka Allah menjadikan neraka sebagaimana yang Dia kehendaki.

Diriwayatkan oleh Ibnu Mandah, bahwa Mujahid berkata, aku bertanya pada Ibnu Abbas: Di manakah surga? Di atas langit yang tujuh. Lalu di mana neraka? Di bawah tujuh keseluruhan samudera. Asy-Syaukani dalam Fath al-Qadir berkomentar: Yang lebih utama adalah mengarahkan ucapan dalam atsar ini pada konsep umum. Mengingat balasan dari amal ditulis di langit, qadha dan qadar diturunkan dari langit, begitu juga surga dan neraka terletak di dalamnya.

Dikeluarkan hadits oleh Abu Nu'aim dalam Tarikh Ashbahan, dari Ibnu Umar berkata, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: Sesungguhnya neraka jahannam diliputi oleh dunia dan surga ada di belakangnya, karena itu shirat terletak di atas neraka dan menjadi jalan menuju ke surga.

Dikeluarkan hadits oleh Juwaibir dalam kitab Tafsirnya, dari Mu'adz ibn Jabbal, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam ditanya: Dari arah mana neraka jahannam akan didatangkan pada hari kiamat? Beliau menjawab: Akan didatangkan dari bumi yang ketujuh, pada neraka terdapat tujuh puluh ribu kendali, pada tiap kendali bergantungan tujuh puluh malaikat, neraka berseru 'arahkan ke penghuniku, arahkan ke penghuniku'. Ketika masih berjarak langkah seratus tahun dari manusia neraka berkobar-kobar. Saat itu sudah tidak tersisa lagi para hamba malaikat dan utusan nabi melainkan diriku yang bersimpuh pada kedua lututku dan berucap 'wahai rabbi, diriku diriku.'

Dikeluarkan hadits oleh Ahmad dan Baehaqi dengan sanad yang para rawinya tsiqah, dari Ya'la ibn Umayyah, sesungguhnya Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: Lautan adalah neraka jahannam.
Dikeluarkan atsar oleh Ahmad dalam kitab az-Zuhd, dari Sa'id ibn Abi al-Husain berkata: lautan adalah wadah neraka jahannam.

Dikeluarkan atsar oleh Abu asy-Syaikh Ibnu Hayyan dalam kitab al-'Azhamah serta Baehaqi dari jalur Said ibn Musayyab, dari Ali ibn Abi Thalib berkata: Aku tidak mengetahui orang yahudi yang lebih benar dari seseorang yang menduga bahwa sesungguhnya neraka agung Allah adalah lautan. Ketika tiba hari kiamat maka di lautan Allah mengumpulkan matahari, bulan, dan bintang, lalu mengirimkan angin barat yang menyalakan lautan itu.

Dikeluarkan atsar oleh Abu asy-Syaikh Ibnu Hayyan, dari Ka'ab ketika mentafsiri ayat 'Dan lautan yang menyala' (QS. Ath-Thur: 6) berkata: Lautan menyala sehingga menjadi neraka jahannam.
Dikeluarkan atsar oleh Baehaqi dalam kitab Syu'ab al-Iman, dari Wahab ibn Munabbih bahwasanya dia berkata: Ketika kiamat terjadi Allah berfirman pada cakrawala dan terkuaklah neraka saqar yangmana langit semula menjadi tutupnya, lalu keluar api yang ketika sampai pada seluruh lautan -dimana laut menjadi tepi batas neraka jahannam- maka api itu mengeringkan lautan lebih cepat dari kedipan mata. Laut menjadi pembatas antara neraka jahannam dan tujuh bumi. Ketika mengering maka laut menyala pada tujuh bumi dan meninggalkannya menjadi onggokan bara api.

Pendapat lain mengatakan neraka ada di langit sebagaimana surga, berlandaskan hadits Ahmad riwayat Hudzaifah, dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: Aku diberikan buraq, namun kami -aku dan Jibril- belum berpindah sekejapan mata sebelum dihantarkan pada Baitul Maqdis terlebih dahulu, lalu dibukakan bagiku pintu langit dan kulihat surga dan neraka. Dikeluarkan hadits lain oleh Ahmad, dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bahwasanya beliau bersabda: Aku melihat pada malam yang kulalui surga dan neraka di langit. Lalu beliau shallallahu 'alaihi wasallam membaca ayat "Dan di langit terdapat (sebab-sebab) rizqimu dan terdapat (pula) apa yang dijanjikan kepadamu" (QS. Adz-Dzariyat: 22). Maka seakan aku belum membacanya.

As-Safarini berkata: Hadits itu dan sejenisnya belum bisa menjadi hujjah bahwa letak neraka di langit, sebab boleh jadi neraka itu terlihatnya ada di bumi sementara Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berada di langit. Mayit diketahui bisa melihat surga dan neraka sementara mayit itu berada di dalam kubur, padahal keberadaan surga tidaklah di bumi. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam juga diketahui pernah melihat surga dan neraka saat shalat kusuf sementara shalat itu dilakukan di bumi.

Al-Hafizh Ibnu Rajab berkata: Hadits itu, andaipun tsubut, maka kata 'langit' menjadi zharaf [keterangan waktu] dari penglihatan, bukan zharaf dari yang dilihat. Padahal hadits tentang Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam yang melihat surga dan neraka di atas beberapa lapisan langit itu statusnya sangat dhaif. Seandainya shahih pun akan diarahkan pada pemahaman yang telah disebutkan tadi. Sehingga kesimpulannya surga terletak di atas langit lapisan ketujuh, atapnya adalah 'arsy Allah ar-Rahman, dan langit terletak di bumi lapisan ke tujuh, sesuai dengan pendapat shahih mu'tamad. Wabillahi taufiq. Demikian penuturan Ibnu Rajab.
Aku [Shiddiq Hasan] tandaskan, bahwa as-Suyuthi dalam Itmam ad-Dirayah syarh an-Niqayah telah berkata: kita meyakini surga ada di langit, versi pendapat lain ada di bumi, versi lainnya lagi mauquf serta hanya Allah yang tahu. Pendapat yang aku [as-Suyuthi] pilih adalah sesuai mafhum dari redaksi al-Qur'an dan Hadits. Yakni pada semisal firman Allah tentang kisah Nabi Adam 'alaihi salam: Kami berfirman "Turunlah kamu semuanya dari surga itu!". Juga pada hadits shahih "Mintalah surga firdaus. Sesungguhnya firdaus adalah surga yang paling tinggi. Di atasnya ada 'arsy Allah ar-Rahman. Dari firdaus memancar sungai-sungai surga." Pada hadits shahih Muslim disebutkan "Arwah para syuhada berada dalam perut burung hijau, mereka dapat keluar masuk dari [tempat kediamannya di] surga sesuka hati, lalu kembali beristirahat menuju lentera-lentera yang digantungkan di [bawah] ‘Arsy. 

Kemudian kau mauqufkanlah pembahasan tentang neraka. Yakni kau katakanlah mauquf tentang letak neraka itu karena tidak ada yang tahu kebenarannya selain Allah. Aku [as-Suyuthi] tidak menemukan satu hadits pun yang bisa dijadikan pegangan tentang masalah itu. Pendapat lain mengatakan di bawah bumi, mengacu pada hadits marfu' dari Ibnu Umar yang diriwayatkan oleh Ibnu Abdil Barr dan dinyatakan dhaif olehnya: "Janganlah pergi melaut kecuali mereka yang akan berperang, haji, atau menunaikan umrah. Sesungguhnya di bawah lautan adalah neraka." Diriwayatkan juga hadits mauquf dari Ibnu Umar dan dinyatakan dhaif oleh Ibnu Abdil Barr: "Janganlah berwudhu dengan air laut, sesungguhnya lautan adalah tangga bagi neraka." Ada pendapat lain mengatakan neraka ada di muka bumi, mengacu pada hadits riwayat Wahab ibn Munabbih, bahwa Dzul Qarnain mengamati Gunung Qaf lalu terlihat di bawahnya ada gunung lain yang lebih kecil...Dzul Qarnain berkata: Gunung Qaf, beritahukanlah padaku akan keagungan Allah. Jawabnya: Sesungguhnya urusan Tuhanku sungguh agung. Di belakangku berjarak langkah lima ratus tahun terdapat sebuah bumi, dimana pada jarak langkah lima puluh tahunnya terdapat pegunungan bersalju yang satu sama lain senantiasa runtuh. Jika bukan karena pegunungan es itu niscaya aku sudah terbakar oleh neraka. Diriwayatkan atsar oleh Harits ibn Usamah dalam musnadnya, dari Abdullah ibn Salam berkata: Surga ada di langit dan neraka ada di bumi. Versi pendapat lain surga ada di bumi. Demikan penuturan as-Suyuthi.

Keterangan senada terdapat di kitab Tadzkirah karangan al-Qurthubi yang berkata: Hal itu menunjukkan bahwa neraka ada di permukaan bumi, hanya Allah yang tahu di mana letaknya dan di bagian bumi sebelah mana. Demikian penuturan al-Qurthubi.
As-Safarini berkata, bahwa Muhaddits Ahmad Waliyullah ad-Dahlawi dalam kitab aqidahnya berkata: nash tidak menjelaskan letak surga dan neraka, melainkan terserah kehendak Allah semata, karena kita memang tidak akan mampu meliputi terhadap penciptaan dan ilmu Allah. Demikian seluruh penuturan as-Safarini. Aku [Shiddiq Hasan] tandaskan, pendapat ad-Dahlawi ini adalah pendapat yang paling rajih dan paling hati-hati di antara sekian pendapat lainnya insya Allah ta'ala.