Sayyidina Ali Karamallahu Wadz’hahu mengatakan : “ Bahwa seluruh
Al-Qur’an itu terkandung didalam surat Al-Fatihah”, sedangkan surat
Al-Fatihah itu sendiri terkandung di dalam Bismillah (basmallah).
Karena adanya suatu kehadiran ilahi dalam teks Al-Qur’an , yakni
Bismillah (Basmallah), maka kalimat Bismillah inipun merupakan
pengejawantahan yang dapat dilihat dari firman ilahi itu, untuk membantu
kaum muslim menembus kedalam dan ditembusi oleh kehadiran ilahi yang
sesuai dengan kapasitas spiritual setiap orang Islam.
Bismillah membantu manusia untuk menembus selubung eksistensi
material, sehingga memperoleh jalan masuk ke barakah yang terletak
didalam firman ilahi dan untuk mengenyam hakikat alam spiritual, karena
Bismillah itupun adalah suatu pengejawantahan visual dari kristalisasi
realitas-realitas spiritual (Al-Haqa’iq) yang terkandung didalam wahyu
Islam pertama :
“Iqraa bismirabbikaal ladzii khalaq” : Dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan (Q.S. : 96 : 1)
Kalimat “Bismillah” merupakan hasil dari pengejawantahan ke-Esaan
pada bidang keanekaragaman. Kalimat suci ini merefleksikan kandungan
prinsip keEsaan ilahi, kebergantungan seluruh keanekaragaman kepada Yang
Esa, kesementaraan dunia dan kualitas-kualitas positif dari eksistensi
kosmos atau makhluk, sebagaimana difirmankan oleh Allah Swt didalam
Al-Qur’an: “Yaa Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan ini dengan
sia-sia” (Q.S. 3 : 191)
Allah Swt menurunkan kalimat suci “Bismillah” dalam wujud fisik (yang
tersurat) pada sebuah kitab suci Al-Qur’anul Kariim yang secara
langsung dapat dipahami oleh pikiran yang sehat. Karena kalimat suci
“Bismillah” itu sendiri, memiliki realitas-realitas dasar dan
perbuatan-perbuatan sebagai tangga bagi pendakian jiwa dari tingkat yang
dapat dilihat dan di dengar menuju ke Yang Gaib, yang juga merupakan
keheningan diatas setiap bunyi. Wujud fisik (Bismillah) inipun
didasarkan pada ilmu pengetahuan tentang dunia batin yang tidak hanya
berkaitan dengan penampakan lahir semata, tetapi juga dengan
realitas-realitas batin “Bismillah” itu sendiri (yang tersirat)
Bismillah diilhami oleh spiritualitas Islam secara langsung yang
diwahyukan oleh Allah Swt kepada Nabi, sedangkan wujudnya tentu saja
dibentuk oleh karakteristik-karakteristik tertentu dari tempat penerima
wahyu Al-Qur’an, yaitu : “Qalbu” (hati), yang nilai-nilai positifnya
diuniversalkan Islam. Bentuk wahyu Islam yang pertama ini (Bismillah)
tidaklah mengurangi kebenaran, bahwa sumber religius dari “Bismillah”
ini berasal dari kandungan batin dan dimensi spiritual Islam pula.
Hanya bagi orang yang mampu melihat relitas-realitas tersebut
ataupun orang yang telah dilatih untuk memperoleh penglihatan
“Al’Bashirah” (penglihatan batin) atas sesuatu yang tersembunyi dibalik
rahasia “Bismillah”, dan dikarenakan “Bismillah” ini merupakan pula
pesan dari ruang inti perbendaharaan yang gaib (khaza’in al-ghoybi),
maka siapapun yang menerima pesan kalimat suci ini didalam hatinya ia
seakan menikmati alunan nyanyian alam rahim yang membawa jiwanya sebelum
episode perjalanan duniawinya yang singkat. Agama Islam tidak
berdasarkan ketegangan dramatis antara langit dan bumi, atau pengorbanan
heroik dan penyelamatan melalui campur tangan Tuhan, akan tetapi Agama
Islam bertindak untuk mengembalikan kesadaran manusia, bahwa alam
semesta adalah kalam ilahi dan pelengkap ayat-ayat suci tertulis yang
diwahyukan dalam bahasa Arab.
Kesadaran ini diperkuat dengan tata cara “shalat” yang secara
naluriah mengembalikan manusia pada keadaan primordialnya dengan
menjadikan seluruh alam sebagai tempat ibadah. Begitu pula halnya
kalimat “Bismillah” yang terucap saat bersujud menyentuh bumi (shalat),
adalah ; untuk mengembalikan manusia ke-kesucian primordial (al-fithrah)
saat Yang Maha Esa menghadirkan dirinya secara langsung didalam hati
manusia dan “mengumandangkan sebuah simfoni abadi dalam keselarasan yang
ada pada alam yang suci”.
Kalimat suci “Bismillah” yang terucap saat berdzikir, berarti sang
pendzikir telah kembali kepusat alam, bukan secara eksternal melainkan
melalui hubungan batin yang menghubungkan dirinya dengan prinsip-prinsip
dan irama-irama alam primordial yang sakral dan teramat luas sekaligus
merupakan suatu perumpamaan dialog suci antara seorang Hamba dengan
Khaliqnya, yang menenangkan dan sekaligus mensucikan jiwanya, begitupun
“Bismillah” yang terucap disaat manusia hendak melakukan suatu
pekerjaan-pekerjaan yang halal, maka kesadaran dirinya akan terbangkit
dari keterlenaan, dalam dirinya melalui kesadaran akan realitas Yang
Maha Esa.
“Sebuah kesadaran yang sesungguhnya merupakan substansi dari manusia primordial dan sebab terbentuknya eksistensi manusia “.
Hati serta jiwa seluruh muslim disegarkan oleh “keagungan,
keselarasan dan kesucian” kalimat “Bismillah” dalam pada bentuk-bentuk
huruf Al-Hijaiyyah yang terdiri dari tujuh huruf (Ba Sin Mim Alif
Lam Lam Ha), yang mengelilingi kaum muslim yang hidup didalam
masyarakat Islam tradisional dan yang mengungkapkan keindahannya pada
setiap lembaran-lembaran suci Al-Qur’an. Oleh karenanya “Bismillah”
sebagai induk suci Islam yang merupakan karunia dari “Haqiqah” yang
terletak dalam hati wahyu Islam.
Kalimat suci ini akan tetap demikian bagi seluruh muslim, tak peduli
apakah diri mereka sadar akan haqiqah ataukah mereka yang sudah puas
dengan bentuk-bentuk luarnya saja (kalimat Bismillah yang tersurat).
Bagi mereka yang mengikuti jalan menuju “haqiqah”, kalimat suci ini
merupakan pembantu pertama yang sangat diutamakan untuk merenungkan
ke-Esaan Ilahi Rabbi, karena huruf “Ba” yang dilambangkan oleh titik
pengenal kesucian horizontal “Sin” dengan wujud lengkungan vertikal yang
menghadap langit dan “Mim” yang berporos pada suatu tiang kepasrahan.
Tiga huruf-huruf suci ini secara keseluruhan melambangkan eksistensi
universal untuk menuntun manusia dalam pembauran kualitas, kekuatan, dan
aliran berbagai elemen agar setiap muslim mengingatkan ajaran Tuhan,
yaitu dalam bentuk alam semesta, yang benar-benar muslim atau tunduk
kepada kehendak Tuhan dengan mematuhi sifat dan hukum alamnya
sendiri-sendiri.
Kesucian “Bismillah” membantu manusia untuk menembus selubung
eksistensi material sehingga memperoleh jalan masuk ke “Barakah” yang
terletak didalam firman illahi dan untuk mengenyam suatu “rasa”, bahwa
setiap jiwa akan mengenyam sesuai dengan kapasitas, keterbatasan, dan
keabadiannya.
Huruf “Alif” didalam kalimat “Bismillah” dengan
vertikalitasnya melambangkan kekuatan Tuhan dan prinsip transenden yang
darinya segala sesuatu itu berasal, sedangkan dua huruf “Lam” dalam
bentuk kail (mata kail), yang melambangkan suatu peringatan agar hamba
Allah berhati-hati dalam pancingan Iblis atau setan dan sekaligus
merupakan pengejawantahan yang dapat dilihat dari firman ilahi, untuk
membantu kaum muslim menembus kedalam dan ditembusi oleh kehadiran
ilahi yang sesuai dengan kapasitas spiritual setiap orang Islam
Hal ini pernah disinggung dalam salah satu Hadits Rasul Saw, yang
menyebutkan, bahwa “Barang siapa yang melakukan sesuatu pekerjaan dengan
tanpa diawali “Bismillah”, maka tidak akan ada keberkahan didalam
pekerjaannya itu”. Karena didalam makan dan minumnya manusia, Iblis akan
turut andil didalamnya, jika tidak diawali dengan ucapan “Bismillah”.
Sedangkan mengenai huruf “Ha” (Ha, marbutoh), yang melambangkan
realitas lingkaran kosmos sebagai wahyu primordial Tuhan yang merupakan
hasil dari pengejawantahan keEsaan pada bidang keanekaragaman. Keempat
buah huruf suci ini merefleksikan kandungan prinsip keEsaan ilahi,
kebergantungan seluruh keanekaragaman kepada Yang Esa, kesementaraan
dunia dan kualitas-kualitas positif dari eksistensi kosmos atau makhluk,
sebagaimana difirmankan oleh Allah Swt didalam Al-Qur’an: Yaa Tuhan
kami, tidaklah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia”
Keempat huruf ini jika digabungkan menjadi kalimat “Allah”. Itulah
alasan mengapa “Alif” menjadi sumber abjad dan huruf pertama dari nama
“Tuhan Yang Maha Kekal” ini, Allah, yang bentuk visualnya benar-benar
menyampaikan seluruh doktrin metafisik Islam mengenai alam realitas.
Karena dalam bentuk tulisan dari nama “Allah” dalam bahasa Arab, kita
melihat dengan jelas suatu garis horizontal, yakni gerak penulisannya,
kemudian garis tegak lurus dari “Alif” dan “Lam” semacam garis
melingkar, yang secara simbolis dapat disamakan dengan suatu lingkaran
“Tauhid” yang mengelilingi jiwa orang Islam, “ dan sekaligus merupakan
suatu teofani dan refleksi dari ketakterbatasan kekayaan khazanah Tuhan
yang tercipta setiap saat tanpa pernah kehabisan
kemungkinan-kemungkinannya”. Hal ini pula yang menegaskan peran kitab
suci Al-Qur’an sebagai petunjuk (Al-Huda), jalan menuju Tuhan.
“Al’Qur’an bagaikan sepercik cahaya yang menyinari kegelapan eksistensi manusia di dunia ini”.
Misteri Zat yang menyatakan identitas, yang sekaligus merupakan sifat
Tuhan yang mutlak dan juga transendensi, mencakup seluruh aspek
ketuhanan yang mungkin termasuk dunia dengan pembiasan pembiasan
dari-Nya yang mengindividualisasi tak terkira banyaknya. Maka dari itu
orang yang mencintai Tuhan akan selalu “mengosongkan hatinya dari
segala sesuatu selain-Nya” (ini terapi yang sangat ampuh untuk mencapai
puncak kekhusyuan didalam shalat); karena “ Alif Lam Lam Ha” akan
menyerbu hatinya dan tidak menyisakan ruang sedikitpun untuk sesuatu
yang lain, karena seseorang hanya perlu mengetahui dan menyelami hakikat
“Bismillah” ini untuk mengetahui semua yang dapat diketahui.
Nama “Allah” adalah kunci khazanah misteri Tuhan dan pintu gerbang
menuju Yang Gaib dan Yang Nyata. Itulah realitas yang berdasarkan
identitas esensial Tuhan dan kesucian nama-Nya. Itulah alasan mengapa
para Ahlul Hukama selalu merenungi dan menyebutkan bahwa ; “Huruf-huruf
didalam “Bismillah” turun dari dunia spiritual ke dunia fisikal dan
memiliki substansi spiritual batin ketika mengenakan selubung dunia
gaib yang mampu menembus kedalam makna batinnya, dan dapat merenungkan
simbol prinsip-prinsip realitas maupun pedoman yang terwujud”
Sebenarnya seluruh manifestasi berasal dari ketujuh huruf ini (Ba
Sin Mim Alif Lam Lam Ha), karena bagaimana mungkin Yang “Esa”
melambangkan sesuatu yang lain dari huruf-huruf yang akan mengakui
keEsaan-Nya, apalagi penggabungan dari ketujuh huruf-huruf ini jika
berbentuk huruf Arab yang memanjang dari kanan ke kiri, akan merupakan
lambang penerimaan prinsip material dan pasif, dalam arti kata
“ketaqwaan mutlak” serta dimensi keindahan yang menyempurnakan
ke-Agungan diri-Nya, dan sekaligus melambangkan pusat teragung yang
dari-Nya segala sesuatu itu berasal dan kemana segala sesuatu itu
kembali.
“Manusia harus percaya kepada yang suci dan terlibat didalamnya,
kalau tidak, maka Yang Suci akan menyembunyikan dirinya dibelakang
selubung yang tidak dapat diraba dan dilalui, yang pada hakikatnya
adalah, selubung jiwa rendah manusia “.
Kesucian “Bismillah” mampu menciptakan sesuatu yang bersifat
spiritual sekaligus sensual, menyingkap keindahan dunia ini beserta
sifat fananya, dan menjelma dalam bentuk alam transendental yang indah
melalui teofani Tuhan, karena hakikat Bismillah masih suci dan dicari
oleh sebagian masyarakat Islam, dan menjadi nilai universal bagi seluruh
dunia pada saat kebodohan mengancam untuk mencekik “spirit Bismillah”
itu sendiri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar