Senin, 29 April 2013

<> HAKIKAT BISMILLAH


Penjelmaan duniawi dari pola dasar ilahi, yang disebut didalam Al-Qur’an dengan penulisan pena dan tempat tinta, memiliki suatu pokok signifikasi spiritual. Dapat dikatakan, bahwa Al-Qur’an merupakan suara dari firman Tuhan yang diembuskan ke hati Nabi dan kemudian kepada para sahabat dan generasi-generasi selanjutnya.
Sayyidina Ali Karamallahu Wadz’hahu mengatakan : “ Bahwa seluruh Al-Qur’an itu terkandung didalam surat Al-Fatihah”, sedangkan surat Al-Fatihah itu sendiri terkandung di dalam Bismillah (basmallah).
Karena adanya suatu kehadiran ilahi dalam teks Al-Qur’an , yakni Bismillah (Basmallah), maka kalimat Bismillah inipun merupakan pengejawantahan yang dapat dilihat dari firman ilahi itu, untuk membantu kaum muslim menembus kedalam dan ditembusi oleh kehadiran ilahi yang sesuai dengan kapasitas spiritual setiap orang Islam.
Bismillah membantu manusia untuk menembus selubung eksistensi material, sehingga memperoleh jalan masuk ke barakah yang terletak didalam firman ilahi dan untuk mengenyam hakikat alam spiritual, karena Bismillah itupun adalah suatu pengejawantahan visual dari kristalisasi realitas-realitas spiritual (Al-Haqa’iq) yang terkandung didalam wahyu Islam pertama :
“Iqraa bismirabbikaal ladzii khalaq” : Dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan (Q.S. : 96 : 1)
Kalimat “Bismillah” merupakan hasil dari pengejawantahan ke-Esaan pada bidang keanekaragaman. Kalimat suci ini merefleksikan kandungan prinsip keEsaan ilahi, kebergantungan seluruh keanekaragaman kepada Yang Esa, kesementaraan dunia dan kualitas-kualitas positif dari eksistensi kosmos atau makhluk, sebagaimana difirmankan oleh Allah Swt didalam Al-Qur’an: “Yaa Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia” (Q.S. 3 : 191)
Allah Swt menurunkan kalimat suci “Bismillah” dalam wujud fisik (yang tersurat) pada sebuah kitab suci Al-Qur’anul Kariim yang secara langsung dapat dipahami oleh pikiran yang sehat. Karena kalimat suci “Bismillah” itu sendiri, memiliki realitas-realitas dasar dan perbuatan-perbuatan sebagai tangga bagi pendakian jiwa dari tingkat yang dapat dilihat dan di dengar menuju ke Yang Gaib, yang juga merupakan keheningan diatas setiap bunyi. Wujud fisik (Bismillah) inipun didasarkan pada ilmu pengetahuan tentang dunia batin yang tidak hanya berkaitan dengan penampakan lahir semata, tetapi juga dengan realitas-realitas batin “Bismillah” itu sendiri (yang tersirat)
Bismillah diilhami oleh spiritualitas Islam secara langsung yang diwahyukan oleh Allah Swt kepada Nabi, sedangkan wujudnya tentu saja dibentuk oleh karakteristik-karakteristik tertentu dari tempat penerima wahyu Al-Qur’an, yaitu : “Qalbu” (hati), yang nilai-nilai positifnya diuniversalkan Islam. Bentuk wahyu Islam yang pertama ini (Bismillah) tidaklah mengurangi kebenaran, bahwa sumber religius dari “Bismillah” ini berasal dari kandungan batin dan dimensi spiritual Islam pula.
Hanya bagi orang yang mampu melihat relitas-realitas tersebut ataupun orang yang telah dilatih untuk memperoleh penglihatan “Al’Bashirah” (penglihatan batin) atas sesuatu yang tersembunyi dibalik rahasia “Bismillah”, dan dikarenakan “Bismillah” ini merupakan pula pesan dari ruang inti perbendaharaan yang gaib (khaza’in al-ghoybi), maka siapapun yang menerima pesan kalimat suci ini didalam hatinya ia seakan menikmati alunan nyanyian alam rahim yang membawa jiwanya sebelum episode perjalanan duniawinya yang singkat. Agama Islam tidak berdasarkan ketegangan dramatis antara langit dan bumi, atau pengorbanan heroik dan penyelamatan melalui campur tangan Tuhan, akan tetapi Agama Islam bertindak untuk mengembalikan kesadaran manusia, bahwa alam semesta adalah kalam ilahi dan pelengkap ayat-ayat suci tertulis yang diwahyukan dalam bahasa Arab.
Kesadaran ini diperkuat dengan tata cara “shalat” yang secara naluriah mengembalikan manusia pada keadaan primordialnya dengan menjadikan seluruh alam sebagai tempat ibadah. Begitu pula halnya kalimat “Bismillah” yang terucap saat bersujud menyentuh bumi (shalat), adalah ; untuk mengembalikan manusia ke-kesucian primordial (al-fithrah) saat Yang Maha Esa menghadirkan dirinya secara langsung didalam hati manusia dan “mengumandangkan sebuah simfoni abadi dalam keselarasan yang ada pada alam yang suci”.
Kalimat suci “Bismillah” yang terucap saat berdzikir, berarti sang pendzikir telah kembali kepusat alam, bukan secara eksternal melainkan melalui hubungan batin yang menghubungkan dirinya dengan prinsip-prinsip dan irama-irama alam primordial yang sakral dan teramat luas sekaligus merupakan suatu perumpamaan dialog suci antara seorang Hamba dengan Khaliqnya, yang menenangkan dan sekaligus mensucikan jiwanya, begitupun “Bismillah” yang terucap disaat manusia hendak melakukan suatu pekerjaan-pekerjaan yang halal, maka kesadaran dirinya akan terbangkit dari keterlenaan, dalam dirinya melalui kesadaran akan realitas Yang Maha Esa.
“Sebuah kesadaran yang sesungguhnya merupakan substansi dari manusia primordial dan sebab terbentuknya eksistensi manusia “.
Hati serta jiwa seluruh muslim disegarkan oleh “keagungan, keselarasan dan kesucian” kalimat “Bismillah” dalam pada bentuk-bentuk huruf Al-Hijaiyyah yang terdiri dari tujuh huruf (Ba Sin Mim Alif Lam Lam Ha), yang mengelilingi kaum muslim yang hidup didalam masyarakat Islam tradisional dan yang mengungkapkan keindahannya pada setiap lembaran-lembaran suci Al-Qur’an. Oleh karenanya “Bismillah” sebagai induk suci Islam yang merupakan karunia dari “Haqiqah” yang terletak dalam hati wahyu Islam.
Kalimat suci ini akan tetap demikian bagi seluruh muslim, tak peduli apakah diri mereka sadar akan haqiqah ataukah mereka yang sudah puas dengan bentuk-bentuk luarnya saja (kalimat Bismillah yang tersurat).
Bagi mereka yang mengikuti jalan menuju “haqiqah”, kalimat suci ini merupakan pembantu pertama yang sangat diutamakan untuk merenungkan ke-Esaan Ilahi Rabbi, karena huruf “Ba” yang dilambangkan oleh titik pengenal kesucian horizontal “Sin” dengan wujud lengkungan vertikal yang menghadap langit dan “Mim” yang berporos pada suatu tiang kepasrahan.
Tiga huruf-huruf suci ini secara keseluruhan melambangkan eksistensi universal untuk menuntun manusia dalam pembauran kualitas, kekuatan, dan aliran berbagai elemen agar setiap muslim mengingatkan ajaran Tuhan, yaitu dalam bentuk alam semesta, yang benar-benar muslim atau tunduk kepada kehendak Tuhan dengan mematuhi sifat dan hukum alamnya sendiri-sendiri.
Kesucian “Bismillah” membantu manusia untuk menembus selubung eksistensi material sehingga memperoleh jalan masuk ke “Barakah” yang terletak didalam firman illahi dan untuk mengenyam suatu “rasa”, bahwa setiap jiwa akan mengenyam sesuai dengan kapasitas, keterbatasan, dan keabadiannya.
Huruf “Alif” didalam kalimat “Bismillah” dengan vertikalitasnya melambangkan kekuatan Tuhan dan prinsip transenden yang darinya segala sesuatu itu berasal, sedangkan dua huruf “Lam” dalam bentuk kail (mata kail), yang melambangkan suatu peringatan agar hamba Allah berhati-hati dalam pancingan Iblis atau setan dan sekaligus merupakan pengejawantahan yang dapat dilihat dari firman ilahi, untuk membantu kaum muslim menembus kedalam dan ditembusi oleh kehadiran ilahi yang sesuai dengan kapasitas spiritual setiap orang Islam
Hal ini pernah disinggung dalam salah satu Hadits Rasul Saw, yang menyebutkan, bahwa “Barang siapa yang melakukan sesuatu pekerjaan dengan tanpa diawali “Bismillah”, maka tidak akan ada keberkahan didalam pekerjaannya itu”. Karena didalam makan dan minumnya manusia, Iblis akan turut andil didalamnya, jika tidak diawali dengan ucapan “Bismillah”.
Sedangkan mengenai huruf “Ha” (Ha, marbutoh), yang melambangkan realitas lingkaran kosmos sebagai wahyu primordial Tuhan yang merupakan hasil dari pengejawantahan keEsaan pada bidang keanekaragaman. Keempat buah huruf suci ini merefleksikan kandungan prinsip keEsaan ilahi, kebergantungan seluruh keanekaragaman kepada Yang Esa, kesementaraan dunia dan kualitas-kualitas positif dari eksistensi kosmos atau makhluk, sebagaimana difirmankan oleh Allah Swt didalam Al-Qur’an: Yaa Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia”
Keempat huruf ini jika digabungkan menjadi kalimat “Allah”. Itulah alasan mengapa “Alif” menjadi sumber abjad dan huruf pertama dari nama “Tuhan Yang Maha Kekal” ini, Allah, yang bentuk visualnya benar-benar menyampaikan seluruh doktrin metafisik Islam mengenai alam realitas.
Karena dalam bentuk tulisan dari nama “Allah” dalam bahasa Arab, kita melihat dengan jelas suatu garis horizontal, yakni gerak penulisannya, kemudian garis tegak lurus dari “Alif” dan “Lam” semacam garis melingkar, yang secara simbolis dapat disamakan dengan suatu lingkaran “Tauhid” yang mengelilingi jiwa orang Islam, “ dan sekaligus merupakan suatu teofani dan refleksi dari ketakterbatasan kekayaan khazanah Tuhan yang tercipta setiap saat tanpa pernah kehabisan kemungkinan-kemungkinannya”. Hal ini pula yang menegaskan peran kitab suci Al-Qur’an sebagai petunjuk (Al-Huda), jalan menuju Tuhan.
“Al’Qur’an bagaikan sepercik cahaya yang menyinari kegelapan eksistensi manusia di dunia ini”.
Misteri Zat yang menyatakan identitas, yang sekaligus merupakan sifat Tuhan yang mutlak dan juga transendensi, mencakup seluruh aspek ketuhanan yang mungkin termasuk dunia dengan pembiasan pembiasan dari-Nya yang mengindividualisasi tak terkira banyaknya. Maka dari itu orang yang mencintai Tuhan akan selalu “mengosongkan hatinya dari segala sesuatu selain-Nya” (ini terapi yang sangat ampuh untuk mencapai puncak kekhusyuan didalam shalat); karena “ Alif Lam Lam Ha” akan menyerbu hatinya dan tidak menyisakan ruang sedikitpun untuk sesuatu yang lain, karena seseorang hanya perlu mengetahui dan menyelami hakikat “Bismillah” ini untuk mengetahui semua yang dapat diketahui.
Nama “Allah” adalah kunci khazanah misteri Tuhan dan pintu gerbang menuju Yang Gaib dan Yang Nyata. Itulah realitas yang berdasarkan identitas esensial Tuhan dan kesucian nama-Nya. Itulah alasan mengapa para Ahlul Hukama selalu merenungi dan menyebutkan bahwa ; “Huruf-huruf didalam “Bismillah” turun dari dunia spiritual ke dunia fisikal dan memiliki substansi spiritual batin ketika mengenakan selubung dunia gaib yang mampu menembus kedalam makna batinnya, dan dapat merenungkan simbol prinsip-prinsip realitas maupun pedoman yang terwujud”
Sebenarnya seluruh manifestasi berasal dari ketujuh huruf ini (Ba Sin Mim Alif Lam Lam Ha), karena bagaimana mungkin Yang “Esa” melambangkan sesuatu yang lain dari huruf-huruf yang akan mengakui keEsaan-Nya, apalagi penggabungan dari ketujuh huruf-huruf ini jika berbentuk huruf Arab yang memanjang dari kanan ke kiri, akan merupakan lambang penerimaan prinsip material dan pasif, dalam arti kata “ketaqwaan mutlak” serta dimensi keindahan yang menyempurnakan ke-Agungan diri-Nya, dan sekaligus melambangkan pusat teragung yang dari-Nya segala sesuatu itu berasal dan kemana segala sesuatu itu kembali.
“Manusia harus percaya kepada yang suci dan terlibat didalamnya, kalau tidak, maka Yang Suci akan menyembunyikan dirinya dibelakang selubung yang tidak dapat diraba dan dilalui, yang pada hakikatnya adalah, selubung jiwa rendah manusia “.
Kesucian “Bismillah” mampu menciptakan sesuatu yang bersifat spiritual sekaligus sensual, menyingkap keindahan dunia ini beserta sifat fananya, dan menjelma dalam bentuk alam transendental yang indah melalui teofani Tuhan, karena hakikat Bismillah masih suci dan dicari oleh sebagian masyarakat Islam, dan menjadi nilai universal bagi seluruh dunia pada saat kebodohan mengancam untuk mencekik “spirit Bismillah” itu sendiri.

<> Bismillah dan hakikatnya

HAKIKAT BISMILLAH HURUF PER HURUf Dalam suatu hadits Nabi saw. Beliau bersabda, Setiap kandungan dalam seluruh kitab-kitab Allah diturunkan, semuanya ada di dalam Al Quran. Dan seluruh kandungan Al Quran ada di datam Al Fatihah. Dan semua yang ada dalam Al Fatihah ada di dalam Bismillah hirrahmaan nirrahiim.
Bahkan disebutkan dalam hadits lain, setiap kandungan yang ada dalam Bismillah hirrahmaan nirrahiim ada di dalam huruf Baa, dan setiap yang terkandung di dalam Baa ada di dalam titik yang berada dibawah Baa.
Sebagian para Arifin menegaskan, Dalam perspektif orang yang makrifat kepada Allah, Bismillaah hirrahmaan nirrahim itu kedudukannya sama dengan kun dari Allah.
Perlu diketahui bahwa pembahasan mengenai Bismillah hirrahmaan nirrahiim banyak ditinjau dari berbagai segi, baik dari segi gramatikal (Nahwu dan sharaf) atau pun segi bahasa (etimologis), disamping tinjuan dari materi huruf, bentuk, karakteristik, kedudukan, susunannya serta keistemewaanya atas huruf-huruf lainnya yang ada dalam Surat Pembuka Al Qur’an, kristalisasi dan spesifikasi huruf huruf yang ada dalam huruf Baa, manfaat dan rahasianya.
Tujuan kami bukan mengupas semua itu, tetapi lebih pada esensi atau hakikat makna terdalam yang relevan dengan segala hal di sisi Allah swt, Pembahasannya akan saling berkaitan antara satu sama lainnya, karena seluruh tujuannya adalah Ma’rifat kepada Allah swt.
Kami memang berada di gerbangNya, dan setiap ada limpahan baru di dalam jiwa maka ar-Ruhul Amin turun di dalam kalbunya kertas. Ketahuilah bahwa Titik yang berada dibawah huruf Baa’ adalah awal mula setiap surat dan Kitab Allah Ta’ala. Sebab huruf itu sendiri tersusun darititik, dan sudah semestinya setiap Surat ada huruf yang menjadi awalnya, sedangkan setiap huruf itu ada titik yang menjadi awalnya huruf. Karena itu menjadi keniscayaan bahwa titik itu sendiri adalah awal dan pada setiap surat dan Kitab Allah Ta’ala.
Kerangka hubungan antara huruf Baa dengan Tititknya secara komprehensif akan dijelaskan berikut nanti. Bahwa Baa dalam setiap surat itu sendiri sebagai keharusan adanya dalam Basmalah bagi setiap surat, bahkan di dalam surat Al-Baqarah. Huruf Baa itu sendiri mengawali ayat dalam surat tersebut. Karena itu dalam konteks inilah setiap surat dalam Al-Qur’an mesti diawali dengan Baa sebagaimana dalam hadits di atas, bahwa seluruh kandungan Al-Qur’an itu ada dalam surah Al-Fatihah, tersimpul lagi di dalam Basmalah, dan tersimpul lagi dalam Huruf Baa, akhirnya pada titik.
Hal yang sama , Allah SWT dengan seluruh yang ada secara paripurna sama sekali tidak terbagi-bagi dan terpisah-pisah. Titik sendiri merupakan syarat-syarat dzat Allah Ta’ala yang tersembunyi dibalik khasanahnya ketika dalam penampakkan-Nya terhadap mahlukNya. Amboi, titik itu tidak tampak dan tidak Layak lagi bagi anda untuk dibaca selamanya mengingat kediaman dan kesuciannya dari segala batasan, dari satu makhraj ke makhraj lainya. Sebab ia adalah jiwa dari seluruh huruf yang keluar dari seluruh tempat keluarnya huruf. Maka,camkanlah, dengan adanya batin dari Ghaibnya sifat Ahadiyah.
Misalnya anda membaca titik menurut persekutuan, seperti huruf Taa’ dengan dua tik, lalu Anda menambah satu titik lagi menjadi huruf Tsaa’, maka yang Anda baca tidak lain kecuali Titik itu sendiri. Sebab Taa’ bertitik dua, dan Tsaa’ bertitik tiga tidak terbaca,karena bentuknya satu, yang tidak terbaca kecuali titiknya belaka. Seandainya Anda membaca di dalam diri titik itu niscaya bentuk masing-masing berbeda dengan lainnya. Karena itu dengan titik itulah masing-masing dibedakan, sehingga setiap huruf sebenarnya tidak terbaca kecuali titiknya saja. Hal yang sama dalam perspektif makhluk, bahwa makhluk itu tidak dikenal kecuali Allah.
Bahwa Anda mengenal-Nya dari makhluk sesungguhnya Anda mengenal-Nya dari Allah swt. Hanya saja Titik pada sebagian huruf lebih jelas satu sama lainnya, sehingga sebagian menambah yang lainnya untuk menyempurnakannya, seperti dalam huruf-huruf yang bertitik, kelengkapannya pada ttik tersebut. Ada sebagian yang tampak pada kenyataannya seperti huruf Alif dan huruf-huruf tanpa Titik. Karena huruf tersebut juga tersusun dari titik-titik. Oleh sebab itulah, Alif lebih mulia dibanding Baa’,karena Titiknya justru menampakkan diri dalam wujudnya, sementara dalam Baa’ itu sendiri tidak tampak (Titik berdiri sendiri). Titik di dalam huruf Baa’ tidak akan tampak, kecuali dalam rangka kelengkapannya menurut perspektif penyatuan. Karena Titik suatu huruf Merupakan kesempurnaan huruf itu sendiri dan dengan sendirinya menyatu dengan huruf tersebut. Sementara penyatuan itu sendiri mengindikasikan adanya faktor lain, yaitu faktor yang memisahkan antara huruf dengan titiknya.
Huruf Alif itu sendiri posisinya menempati posisi tunggal dengan sendirinya dalam setiap huruf. Misalnya Anda bisa mengatakan bahwa Baa’ itu adalah Alif yang di datarkan Sedang Jiim, misalnya, adalah Alif dibengkokkan’ dua ujungnya. Daal adalah Alif yang yang ditekuk tengahnya.
Sedangkan Alif dalam kedudukan titik, sebagai penyusun struktur setiap huruf ibarat Masing-masing huruf tersusun dari Titik. Sementara Titik bagi setiap huruf ibarat Neucleus yang terhamparan. Huruf itu sendiri seperti tubuh yang terstruktur. Kedudukan Alif dengan kerangkanya seperti kedudukan Titik. Lalu huruf-huruf itu tersusun dari Alif sebagimana kita sebutkan, bahwa Baa’ adalah Alif yang terdatarkan.
Demikian pula Hakikat Muhammadiyyah merupakan inti dimana seluruh jagad raya ini diciptakan dari Hakikat Muhammadiyah itu. Sebagaimana hadits riwayat Jabir, yang intinya Allah swt. menciptakan Ruh Nabi saw dari Dzat-Nya, dan menciptakan seluruh alam dari Ruh Muhammad saw. Sedangkan Muhammad saw. adalah Sifat Dzahirnya Allah dalam makhluk melalui Nama-Nya dengan wahana penampakan Ilahiyah.
Anda masih ingat ketika Nabi saw. diisra’kan dengan jasadnya ke Arasy yang merupakan Singgasana Ar-Rahman. Sedangkan huruf Alif, —walaupun huruf-huruf lain yang tanpa titik sepadan dengannya, dan Alif merupakan manifestasi Titik yang tampak di dalamnya dengan substansinya — Alif memiliki nilai tambah dibanding yang lain. Sebab yang tertera setelah Titik tidak lain kecuali berada satu derajat. Karena dua Titik manakala disusun dua bentuk alif, maka Alif menjadi sesuatu yang memanjang. Karena dimensi itu terdiri dari tiga: Panjang, Lebar dan Kedalaman.
Sedangkan huruf-huruf lainnya menyatu di dalam Alif,seperti huruf Jiim. Pada kepala huruf Jiim ada yang memanjang, lalu pada pangkal juga memanjang, tengahnya juga memanjang. Pada huruf Kaaf misalnya, ujungnya memanjang, tengahnya juga memanjang namun pada pangkalnya yang pertama lebar. Masing-masing ada tiga dimensi. Setiap huruf selain Alif memiliki dua atau tiga jangkauan yang membentang. Sementara Alif sendiri lebih mendekati titik. Sedangkan titik , tidak punya bentangan. Hubungan Alif diantara huruf-huruf yang Tidak bertitik, ibarat hubungan antara Nabi Muhammad saw, dengan para Nabi dan para pewarisnya yang paripurna. Karenanya Alif mendahului semua huruf.
Diantara huruf-huruf itu ada yang punya Titik di atasnya, ada pula yang punya Titik dibawahnya,Yang pertama (titik di atas) menempatip osisi “Aku tidak melihat sesuatu sebelumnya) kecuali melihat Allah di sana”.
Diantara huruf itu ada yang mempunyai Titik di tengah, seperti Titik putih dalam lobang Huruf Mim dan Wawu serta sejenisnya, maka posisinya pada tahap, ”Aku tidak melihat sesuatu kecuali Allah didalamnya.” Karenanya titik itu berlobang, sebab dalam lobang itu tampak sesuatu selain titik itu sendiri Lingkaran kepada kepala Miim menempati tahap, “Aku tidak melihat sesuatu” sementara Titik putih menemptai “Kecuali aku melihat Allah di dalamnya.”
Alif menempati posisi “Sesungguhnya orang-orang yang berbaiat kepadamu sesungguhnya mereka itu berbaiat kepada Alllah.” Kalimat “sesungguhnya” menempati posisi arti “Tidak”, dengan uraian “Sesungguhnya orang-orang berbaiat” kepadamu tidaklah berbaiat kepadamu tidaklah berbaiat kepadamu, kecuali berbaiat kepada Allah.”
Dimaklumi bahwa Nabi Muhammad saw. dibaiat, lalu dia bersyahadat kepada bersyahadat kepada Allah pada dirinya sendiri, sesungguhnya tidaklah dia itu berbaiat kecuali berbaiat kepada Allah. Artinya, kamu sebenarnya tidak berbaiat kepada Muhammad saw. tetapi hakikat-nya berbaiat kepada Allah swt. Itulah arti sebenarnya dari Khilafah tersebut.
(disarikan dari tafsir Al-Qur’an karya lbnu ‘Araby)

<> AWAL PENCIPTAAN BISMILLAH

AWAL PENCIPTAAN BISMILLAH
Sebutir debu serta kesekejapan hidup diubah melalui tradisi menjadi sebuah bintang di cakrawala, yang diberkahi dengan kemapanan dan merefleksikan keabadian Tuhan. Menurut doktrin tradisional, realitas batin alam semesta mengungkapkan dirinya melalui mata batin atau penglihatan intelektual, “karena mata batin merupakan alat persepsi yang berdasarkan keselarasan, sekalipun diatas bidang korporeal”.
Dalam makrokosmos, keselarasan alam semesta terwujud pada taraf realitas yang lebih tinggi dan menjadi suram serta semakin samar dalam tingkat kosmos yang semakin rendah, karena jauh sebelum Tuhan menciptakan manusia pertama, yakni Adam As (Abul Basyar) Tuhan yang Maha Agung lebih dulu menciptakan suatu alam yang disebut “Alam Jabbarut Malaakut”, dan dihuni oleh para malaikat-malaikat Allah yang tak terbilang banyaknya.
Sebagian dari kelompok para Malaikat-Malaikat Allah tersebut adalah kelompok Malaikat Muqarrabin, Malaikat Kurubiyyin, Malaikat Kiraman Katibin, Malaikat Arsyi, Malaikat Hafadzah dan Malaikat Aran Jabaniyyah, Malaikat Arsyi. Dan masih banyak lagi golongan Malaikat-malaikat lainnya yang tidak dapat disebutkan disini.
Para malaikat-malaikat ini masing-masingnya mempunyai sayap, yang sayapnya saja secara langsung melambangkan “Hakikat realitas penerbangan dan pendakian melawan seluruh hal yang merendahkan derajat serta menurunkan kekuatan atas dunia ini, yang akhirnya mengantar pada kebebasan dari kungkungan duniawi yang serba terbatas”. Seperti tersebut didalam Firman-Nya : “ Segala puji bagi Allah pencipta langit dan bumi yang menjadikan malaikat sebagai utusan-utusan (untuk mengurus berbagai urusan) yang mempunyai sayap masing-masing (ada yang) dua, tiga empat. Allah menambahkan pada ciptaan-Nya apa yang dikehendaki-Nya, sesungguhnya Allah Maha Kuasa Atas Segala Sesuatu”. (Q.S. 35 : 1).
Menurut doktrin tradisional, “Alam Jabbarut Malakut” terdiri dari tujuh lembah pegunungan kosmik “Qaf” yang pada puncaknya terdapat singgasana Tuhan (Al-Arsy). Tuhan yang menciptakan singgasana (Al-Arsy) dari jambrud hijau dan keempat tiangnya terbuat dari batu merah delima, yang dibawa oleh delapan Malaikatul Arsy, yang selalu bertasbih memuji Tuhannya dan mereka beriman kepada-Nya. Ketujuh lembah “Qaf” itu sendiri, adalah Lembah Thalab (pencarian), Lembah Isyq (cinta), Lembah Istighna (kepuasan), Lembah Hayrat (kekaguman), Lembah Faqr (kemiskinan), Lembah Ma’rifah (gnosis), dan Lembah Fana (lebur).
Dimasing-masing ketujuh lembah pegunungan kosmik “Qaf” ini terdapat (tersimpan) tujuh buah huruf Al-Hijaiyyah, yakni huruf-huruf yang ada pada kalimah suci “Bismillah”. Pegunungan kosmik “Qaf” merupakan pesona spiritual dari keindahan dan keAgungan Tuhan, yang selalu menjadi pintu gerbang untuk masuk kedalam lautan rahasia Tuhan, yang dimulai dengan kerinduan kepada-Nya, dan bergerak secara perlahan menuju penyingkapan “hakikat Bismillah” yang suci dan mensucikan, dan akhirnya mencapai peleburan (Fana) dengan melintasi horizon esoterisme “Qaf” yang sangat luas dan tanpa batas. “Qaf, demi Al-Qur’an yang sangat mulia” (Q.S. : 50 : 1)
Ekspresi universal kehidupan “Alam Jabbarut Malaakut” dan jalan inisiatik, dimungkinkan oleh tingginya tingkatan spiritual (maqam) yang sekaligus menjadi awal cikal bakal penciptaan langit dan bumi yang pada waktu itu (di alam jabbarut malakut), langit masih berupa asap, asap yang keluar dari ketujuh lembah “Qaf”, kemudian Allah satukan dan dari asap tersebut dijadikannya tujuh lapis langit. Seperti tersebut dalam firman-Nya: “ Yang menciptakan tujuh lapis langit “ (Q.S. : 67 : 3). Dan firman-Nya lagi : “Kemudian Dia menuju kepada penciptaan langit yang kala itu masih berupa asap” (Q.S. : 41 : 11). Setelah tujuh lapis langit terbentuk, kemudian Allah Swt menciptakan tujuh lapis bumi yang diambil dari pegunungan kosmik “Qaf” pula. “ Allah-lah yang mnciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi” (Q.S. : 65 : 12)
Catatan : Pengertian mengenai penciptaan langit dan bumi ini adalah “langit akhirat dan bumi akhirat”, karena setelah penciptaan langit dan bumi akhirat ini, Allah Swt menciptakan tujuh surga dan tujuh neraka, barulah langit dan bumi dunia Allah ciptakan dalam masa yang pada saat itu bumi masih dalam keadaan gelap gulita.
Seperti yang Allah Swt firmankan didalam Al-Qur’an : “Dan sesungguhnya telah Kami ciptakan langit dan bumi, dan apa yang ada antara keduanya dalam enam masa, dan kami sedikitpun tidak ditimpa kelelahan “ (Q.S. : 50 : 38)
Tuhan Yang Maha Esa menciptakan dunia setelah DIA (Allah) menciptakan surga dan neraka berikut wildan dan bidadari. Dunia saat itu masih dalam keadaan gelap gulita, dan setelah Nabi Adam As dan Siti Hawa terusir dari surga, kemudian turun ke dunia, barulah Allah Swt menciptakan cahaya yang menerangi dunia (matahari-bulan-dan bintang), walau sebenarnya penciptaan cahaya (cahaya Muhammad) ini lebih dulu dari pada penciptaan Alam Jabbarut Malaakut, yakni “Nur Muhammad”
Tuhan adalah “cahaya langit dan bumi”. Demikian penegasan Al-Qur’an yang kemudian dimensi kosmogonis dan kosmologisnya diperkuat oleh Rasul Saw. Dengan sabdanya : “Yang pertamakali diciptakan oleh Tuhan adalah cahaya”.
“Cahaya bagaikan kutub-kutub spiritual yang menyala, laksana norma dan teladan-teladan yang hidup dan menjadi perhatian para pencari kebenaran dimana dan kapanpun yang sekaligus merupakan realitas surgawi dibalik bentuk keduniawian”.
“Hakikat Bismillah adalah gema panggilan Tuhan kepada manusia untuk kembali ke sumber spiritualnya“ (Faridhal Attros Al’Kindhy)***

<> ASAL USUL ILMU HAKIKAT

DARI MANA DATANGNYA ILMU HAKIKAT INI ?

Orang orang ARIFBILLAH sejak zaman berzaman telahpun memohon Petunjuk & Bimbingan Allah. Para sahabat sudah tentu telah diajar oleh Nabi SAW mengenai perkara perkara yang khusus ini. Ianya RAHSIA YANG HALUS . Maka yang mengetahuinya tidaklah ramai kerana ianya ILMU KHUSUS. Jika semua orang tahu maka hilanglah kekhususannya. 

Dan yang Maha Memberi Petunjuk ialah Allah. ILMU MENGENAL DIRI yang sampai kepada kita ini ialah dari Allah kepada Rasul , dari Rasul kepada Sahabat dan para sahabat menyampaikanya kepada Arifbillah dan turun temurunlah ilmu itu hingga sampai kepada kita dengan Pemeliharaan Allah jua.

Oleh kerana bidangnya ILMU GHAIB , maka otak kita yang terhad kemampuannya , adakalanya tidak mampu mencapainya, sedangkan otak biasanya berfungsi berlandaskan LOGIK. Oleh itu dalam perkara ini peranan otak adalah terhad dan terbatas.

Wajiblah kita yakin dan percaya sekiranya otak menolah sedangkan ada NAS yang menyokongnya. Itulah yang dikatakan IMAN sebab RUKUN IMAN 6 PERKARA itu ialah percaya kepada perkara perkara yang ghaib belaka.

ANTARA ULAMAK UTAMA ILMU HAKIKAT


Antara insan insan yang mendapat PETUNJUK ALLAH didalam hal ini ialah nama nama yang saudara barangkali sudah biasa dengar saperti Qutubul Aulia Syeikh Abd Qadir jailani, Imam Al-Ghazali, Ibnu Arabi, Hamzah Fansuri, Abdus Samad Palimbani, Syeikh Daud Patani, Tok Kenali dan ramai lagi.

Merekalah guru kita yang zahir. Semestinyalah GURU HAKIKI kita ialah Allah. Dalam mencari Ilmu apatah lagi Ilmu Ketuhanan , maka elok sangatlah kita selalu bertanya kepada GURU HAKIKI kita yakni Allah SWT.

Itualah yang sebenarnya berlaku ketika jari jari fakir digerakkan untuk menaip rencana ini tanpa ....fakir hanya menaip saperti yang digerakkan olehNya.

KONSEP UTAMA ILMU HAKIKAT
TAJALLI / PENAMPILAN ALLAH


IBNU ARABI mahupun HAMZAH FANSURI dan juga SYEIKH ABD QADIR JAILANI berpendapat bahawa manusia yang dirujuk sebagai INSAN itu ialah PENAMPILAN DIRI ALLAH YANG AMAT SEMPURNA

ISTILAH yang mereka gunakan bagi menjelaskan penampilan itu ialah TAJALLI.
Yang demikian Tajalli ialah PENAMPILAN DIRI ALLAH.

Sabenarnya menurut mereka, yang disebut sebagai ALAM SEMESTA ini, tidak lain dan tidak bukan melainkan semuanya adalah bentuk bentuk Pentajallian Allah belaka bermula dari yang maha kecil hinngalah kepada yang maha besar.

Namun begitu menurut kenyataan Allah didalam Al-Quran, PENTAJALLIAN ALLAH pada MANUSIA –lah yang sengaja lebih disempurnakan oleh Allah. Maksudnya ialah MANUSIA-lah BENTUK PENTAJALLIAN ALLAH YANG AMAT SEMPURNA LAGI KUKUH.

MERTABAT TUJUH


Bermula dari konsep Tajalli ini, mereka seterusnya menghuraikan PROSES PENTAJALLIAN itu melalui TUJUH MERTABAT atau manusia itu dijadikan/ diciptakan Allah sebagai bentuk Pentajalliannya yang kukuh lagi sempurna itu melalui 7 Alam Pentajallian.

Ini dikatakan sebagai TUJUH ALAM KEDATANGAN. Kembali pun melalui tujuh alam juga. Seaparuh ulamak menyebutnya sebagai 7 Alam Nafsu.

PELBAGAI ISTILAH GIGUNAKAN
Jangan Keliru Dengan Istilah Istilah Yang Banyak Itu.


Sudah tentulah banyak istilah dan nama nama digunakan dalam penjelasan mereka yang terperinci. Janganlah risau mengenainya. Yakinlah bahawa pokok pangkalnya adalah sama jua yaitu MANUSIA itu ialah PENAMPILAN WUJUD ALLAH didunia dan di Alam Maya ini, dalam BENTUK YANG AMAT SEMPURNA dan KUKUH.

Atau manusia itu adalah PENAMPAKAN ALLAH mengikut fahaman LIHAT SATU PADA YANG BANYAK dan LIHAT YANG BANYAK PADA YANG SATU.

Yang Satu itulah banyak dan Yang Banyak itulah satu.

<> AKU


Badan yang dzahir

Badan kita yang dzahir ini adalah pendzahiran diri kita yang batin. Diri kita yang batin itu gaib dari pandangan mata kasar.
Untuk melihat yang batin itu diperlukan bayangannya yaitu diri kita yang dzahir ini. Maka itulah dikatakan badan kasar itu hanya ‘sarung’ atau ‘tunggangan’ atau ‘sangkar’ bagi badan yang gaib itu.
Apabila nyawa berpisah dari badan, maka tinggallah badan itu dan lama kelamaan jadi  hancur kecuali dengan kehendak Allah, ada juga badan yang tidak hancur setelah lama nyawa meninggalkannya. Tetapi pada umumnya badan akan hancur binasa. Itulah dikatakan dari tanah kembali semula ke tanah.
Ada juga orang melihat dalam dunia ini ‘bayangan’ atau ‘badan’ orang yang telah lama meninggal dunia muncul berlakon dan beraksi sebagaimana hidupnya dalam dunia dahulu. Itu bukanlah badan orang itu sebenarnya.
Badannya telah hancur binasa. ‘bayangan’ atau ‘badan’ itu adalah dari unsur alam mithal.
Alam mithal adalah alam yang halus, yang penghuninya atau kandungannya tidak hancur. Ia bukan Roh semata-mata dan bukan pula badan semata-mata. Ia adalah antara kedua unsur itu.
Bahwa Diri kita terdiri dari tiga unsur yaitu unsur badan yang akan hancur kecuali yang dikehendaki Allah untuk tidak hancur, unsur mithal yang tidak hancur tetapi tersimpan dalam ‘alam mithal’ dan unsur ketiga ialah roh dan ini selama-lamanya hidup, tidak hancur dan tidak kembali lagi ke dunia nyata ini.
‘Badan’ atau ‘bayangan’ orang yang telah mati yang kelihatan oleh orang dalam dunia ini dan berlaku seperti mana ia hidup di dunia dahulu, sebenarnya adalah berunsur mithaliyyah (mithal). Sesekali ia kelihatan oleh orang yang hidup dalam dunia ini persis sebagaimana hidupnya dahulu, bahkan berkata-kata dengan orang yang berada dalam dunia ini. Ini telah banyak terjadi di mana saja dalam dunia ini, baik di Barat atau di Timur.
Setelah kita faham alam yang tiga itu, maka tidaklah kita heran kenapa ada orang yang  melihat si anu dan si anu padahal orang itu telah meninggal dunia. Alam mithal ini ada tetapi tidak kelihatan kecuali mereka yang dibukakan hijab untuk melihat alam itu dan para penghuninya.

Setiap orang hendaklah mengenal akan dirinya yang sebenar-benarnya, yaitu yang berunsur rohaniah, agar dia tidak mensia-siakan hidupnya di dunia fana ini.
Hidup kita bukan di dunia ini saja. Hidup kita berkelanjutan, kekal abadi tiada ujungnya. Nilai buruk atau baik bukan dilihat dari segi kekayaan harta, pangkat atau jabatan yang diperoleh di dunia ini. Melainkan nilai baik dan buruk seseorang bergantung kepada iman dan amal soleh seseorang itu.
Dengan kenalnya kita kepada diri yang sebenar itu, maka kita tidak akan putus asa, tidak takut, tidak bimbang dalam mengarungi bahtera hidup kita ini.
Hal ini karena kita tahu diri kita adalah kekasih Allah.
Sebenarnya Allah mengasih diri kita lebih dari ibu mengasihi anak kesayangannya.
Ia Maha Kasih Sayang terhadap hamba-hambanya.
Dengan mengenal diri kita, maka tidaklah kita takabur, sombong, congkak, dengki, iri hati, khianat karena kita tahu siapa diri kita sebenarnya.
Jika dinisbahkan dengan Allah swt, kita tiada apa-apa, hanya ayat-ayatNya saja.
Jika dinisbahkan dengan makhlukNya, diri kita adalah penguasa dan pengurus.
Allah menjadikan alam dan makhluk untuk kita, dan menjadikan kita untuk Dia.
Siri Aku 01 sampai 03 

  1.      DUA UNSUR DIRI AKU
Ada juga orang yang berpendapat bahwa Diri manusia itu terbagi menjadi 2 unsur saja yaitu rohaniah dan jasmaniah.
Unsur rohaniah termasuklah nyawa atau jiwa, dan juga pikiran, mind, khayalan, akal, dan sejenisnya yang berunsur rohaniah atau kejiwaan.
Yang berunsur kejasmanian adalah anggota badan kasar seperti kepala, badan, kaki, tangan, telinga, mata, dan sebagainya yang terdiri dari unsur-unsur api, angin, tanah dan air.
Kedua unsur kejiwaan dan lahiriyah ini saling berhubungan antara satu dengan yang lain, saling pengaruh mempengaruhi antara satu dengan yang lain.
Kalau seseorang itu hatinya susah, atau duka, perasaan ini langsung mempengaruhi jasmaninya seperti tidak nafsu makan dan minum dan akibatnya badan jadi kurus dan tidak sehat. Sebaliknya pula kalau badan sakit, pikiran pun rungsing dan ini menyusahkan hati dan jiwa.
Demikianlah adanya pengaruh mempengaruhi antara jasmani dan rohani.
 2.      TIGA UNSUR DIRI AKU
AKU itu diri. Diri insan terbagi menjadi 3 bagian menurut pendapat sebagian Ahli Sufi, yaitu bagian jasmani, bagian mithali dan bagian ruhani.
Unsur ROH itu adalah diri yang sebenarnya, itulah diri yang tidak akan ‘mati’ menurut istilah biasa. Diri ini berpindah alam saja dari satu alam ke satu alam yang lain. Diri inilah yang Mulia dan menjadi ‘Ayat’ atau ‘Nur Allah’
Kejadiannya Mulia dan Agung.
Unsur Mithali adalah unsur antara jasmani dengan rohani.
Ia adalah diri lapisan yang kedua.
Yang termasuk didalamnya adalah : pikiran, mind dan tubuh halus yang bukan jasmani dan bukan pula roh yang sebenarnya.
Diri inilah yang biasa mengembara dalam alam mimpi takkala kita tidur.
Di lapisan yang ketiga ada diri jasmani yaitu badan kasar kita yang terdiri dari empat unsur antara lain : unsur air, unsur angin, unsur api dan unsur tanah.
Diri ini memerlukan unsur-unsur yang empat itu untuk dapat hidup. Kehidupannya hanya akan wujud setelah empat unsur itu tersedia.
Itulah tiga bahagian diri manusia. walau bagaimanapun, unsur Roh itulah yang paling penting. Roh itu hidup. walau ‘hidup’ lapisan yang dua lagi tidak berfungsi.
Dengan adannya ROH barulah diri kita dapat berfikir, berkomunikasi, makan, minum, bermain, bergerak dan sebagainya.
Tanpa Roh segalanya akan kaku, mati, dan tiada berguna lagi.
3.      AKU INSAN SAGHIR
Menurut Falsafah Kesufian, AKU itu adalah Insan Saghir yakni Manusia Kecil.
Alam semesta raya yang gaib dan yang nyata, adalah Insan Kabir atau manusia besar. Insan Saghir itu adalah Alam Saghir yaitu Alam keil dan Insan Kabir itu adalah Alam besar.
Dikatakan demikian karena hakekat-hakekat dalam Insan Kabir atau manusia besar itu ada dalam Insan Saghir.
Apa yang ada pada Insan Kabir itu ada terbayang dalam Insan Saghir atau Alam Kecil yaitu Manusia.
Alam Kabir itu pula mengandung alam ruh, alam mithal dan alam jasmaniah atau alam fizikal. Alam-alam ini juga ada pada Insan Saghir atau manusia.
Manusia terdiri dari unsur-unsur roh, mithal, tubuh, sebagaimana Alam Besar ini terdiri juga dari unsur-unsur roh, mithal dan fisikal.
ROH itu nyawa yang ‘hidup’. Fizikal itu jisim atau tubuh. Mithal itu antara Roh dan Tubuh yang disebut ‘jiwa’ atau mental atau khayal atau mind.
Yang ada di Alam Kabir (Semesta alam) ada dalam Alam Saghir (Diri manusia).
Hakekat Insan Kabir (Alam Besar) ada dalam Insan Saghir yaitu Manusia. Unsur-unsur alam kabir itu ada juga pada Alam kecil atau manusia itu.
Oleh karena itulah dikatakan AKU ini bayangan atau gambaran dari Alam Kabir.
AKU juga adalah bayangan atau gambaran Insan Kabir.

SEMESTA PADA DIRI SEMESTA PADA DIRI
BumiGunungTambang Sungai
Tanah
Pohon
Timur
Barat
Selatan
Utara
JasadSusu/anggotaOtak Keringat
Daging
Rambut
Muka
Belakang
Kanan
Kiri
AnginKilatGuruh Hujan
Mega/Awan
Mati
Hidup
Panas
Dingin
…….
NafasPerkataanTertawa Tangis
Marah/Sedih
Tidur
Bangun
Muda
Tua
………




  1. Siri Aku 04 sampai 9
4. ILMU AKU MELIPUTI
AKU yang hakiki ini mempunyai ilmu.
Ilmunya adalah limpahan dari ilmu Allah.
Seluruh alam ini ada dalam ilmu AKU.
Dalam ilmu AKU ada surga, neraka, dunia, akhirat, malaikat, iblis bahkan seluruh ciptaan Allah. Semua ini ada dalam ilmu AKU karena AKU tahu semua itu.
AKU telah diberitahu melalui ayat-ayat Allah, yang tersurat dan tersirat, bahwa semua perkara tersebut ada, dan AKU ‘merasai’ adanya.
Oleh karena itulah AKU ini mempunyai ilmu yang meliputi segala-galanya.
Semua itu adalah limpahan karunia Allah jua..
5. AKU TETAP MENGAGUNGKAN ALLAH
AKU sebenarnya hanya mengagungkan dan memuja Allah saja.
AKU tidak mengagungkan apa-apa pun jua selain Allah.
Pada pandangan AKU tidak ada yang kuat dan gagah melainkan Allah.
Tidak ada yang bijaksana melainkan Allah.
Tidak ada yang kaya melainkan Allah.
Semua kekayaan, kegagahan, kebijaksanaan, keindahan adalah ‘ghairullah’ melainkan limpahan karunia Allah semata-mata.
Oleh karena itu, AKU tetap dengan puja dan puji hanya kepada Allah saja.
6. AKU MENGISBATKAN ALLAH
AKU tetap mengisbatkan Allah dalam segala hal dan tindak tanduk-ku.
Maksudnya AKU tetap melihat Allah di balik segala yang maujud atau perkara yang ada.
Apapun yang  “nampak” perbuatan dan kelakuan dan arah mana memandang disana “nampak” Allah.
Oleh karena cara memandang yang demikian, maka AKU akan berkata,
” Tiada maujud melainkan Allah”.
Ini adalah kata-kata dari orang yang sudah “tenggelam” dalam lautan Ketuhanan yang berada dalam pandangan keruhanian semata-mata.
Inilah orang-orang sufi yang telah mencapai maqam Fana Fillah (lenyap dalam Allah) dan seterusnya Baqa Billah (kekal dengan Allah).
7. HUBUNGAN AKU DENGAN ALLAH
Hubungan AKU dengan Allah ibarat hubungan matahari dengan cahayanya, ibarat ombak dengan laut, ibarat gula dengan manisnya.
Semua ini menunjukkan betapa rapat perasaan AKU itu dengan Khaliknya.
Kalau mau di ibaratkan lagi ialah seperti pelukis dengan lukisan, pengukir dengan ukiran, pengarang dengan karangan, pencipta dengan ciptaannya.
Ini adalah ibarat untuk menunjukkan bahwa AKU dengan alam semesta raya ini adalah tanda-tanda atau manifestasi Wujud Yang Maha Esa itu.
8. AKU SUCI HAKEKATNYA
AKU ini memang suci hakekatnya, karena AKU limpahan Nur Allah Yang Maha Suci.
Yang mengotori AKU ini ialah syirik yaitu menyekutukan dengan apa dan siapa jua
Untuk membersihkan kotoran ‘syirik’ itu dari hati ialah dengan Tauhid.
Tauhid ibarat air yang menyucikan najis syirik dari hati.
Jiwa yang bersih ialah jiwa yang tauhid.
Dengan Tauhid ini menjadikan jiwa seseorang itu berani, tawadhu’, sabar, kuat dan gagah karena jiwa Tauhid ini betul-betul mengesakan Allah dan menyerah bulat-bulat kepada Allah Yang Maha Agung.
Dengan berzikir hati akan jadi tenang dan damai, dan akan menimbulkan semangat tauhid dalam diri penzikir itu.
9. AKU TUNDUK KEPADA ALLAH
AKU yang sebenarnya hanya tunduk kepada Allah saja.
AKU tidak dikuasai oleh siapapun jua.
Alam ini tunduk kepada AKU.
Semua makhluk tunduk kepada AKU dengan perintah Allah Yang Maha Perintah.
AKU adalah Khalifah Allah atau wakil Allah yang mengurus makhluk dengan isinya.
Segala yang ada di langit dan di bumi semua untuk AKU.
Kalau dunia ini ladang, AKU pengurusnya dan Allah yang empunya ladang itu.
Namun Allah tidak perlu apa-apa.
Hanya AKU yang memerlukan Dia.
Hanya AKU yang memerlukan dunia.
Makhluk yang ada di dunia adalah untuk AKU .
Semuanya adalah karunia dari Tuhan AKU
Allah jadikan semua makhluk untuk AKU.
Demikian mulianya AKU.
                                                           

Siri Aku 10 sampai 20

10. AKU BERILMU
AKU itu berilmu.
Ilmunya adalah limpahan ilmu Allah.
Ilmu itu meliputi yang diketahui.
Apa yang diketahui itu adalah kandungan ilmu.
Oleh karena AKU adalah ilmunya, dan yang diketahuinya adalah sebenarnya ‘bersatu’, ‘bersama’, dan tiada bercerai.
AKU itu tahu. Apa yang AKU tahu itulah kandungan ilmu AKU.
Bermacam-macam yang diketahui oleh AKU.
Semua itu kandungan ilmu AKU.
Semua itu tiada terpisahkan dari AKU.
11. AKU TIDAK MEMILIK SIFAT TERCELA
AKU tidak megah dan tidak bangga.
Orang yang telah kenal AKUnya tidak memiliki sifat-sifat yang tercela seperti takabbur, congkak, sombong, kikir, dengki, khianat, mengumpat, takut kepada ghairullah dan sebagainya.
Sifat-sifat tercela itu tidak perlu baginya.
Segala sifat tercela itu dengan sendirinya hilang dan diganti dengan sifat-sifat terpuji.
Apa yang hendak dimegah-megahkan, dikhawatirkan, ditakutkan?, karena AKU ini sebenarnya tiada apa-apa.
AKU itu kosong belaka.
Yang ada hanya Allah pada hakekatnya.
Allah memiliki segala-galanya.
Dia yang patut dipuji dan dipuja.
12. AKU TETAP KAYA JIWA
Walaupun dari segi kehidupan dunia ini seseorang itu miskin harta, tetapi kalau jiwanya kenal diri dengan Tuhannya, ia tetap kaya.
Kaya pada perasaannya.
Walaupun susah kehidupan dunianya,
AKUnya tetap merasa senang.
Walaupun badannya lemah,
AKUnya tetap merasa kuat.
Walaupun kesunyian tanpa rekan, namun tetap merasa ramai.
AKU yang telah ‘menyerap’ dalam Yang Maha AKU,
atau jiwa yang ‘menyerap’ dalam Jiwa Semesta
atau perasaan yang ‘menyerap’ dalam Perasaan Sejagat Raya,
atau diri yang ‘menyerap’ dalam Diri Semesta Raya,
Maka tidak akan merasa lemah, tidak akan merasa susah, tidak akan merasa jatuh, tidak akan merasa duka, dan tidak akan merasa sunyi.
13. TUJUAN AKU
Tujuan AKU ialah ALLAH.
Yang diharapnya ialah keredhaan Allah.
Yang diminta ialah keampunan Allah.
Pada pandangan AKU kehidupan akhirat itulah yang utama.
Kembali ke hadirat Allah itulah yang diidamkannya.
AKU tidak takut berpisah nyawa dari badan karena ‘mati’ sebenarnya berpindah alam, dari alam dunia ke alam barzakh.
AKU tetap AKU juga.
Walaupun badan hancur tetapi AKU tidak hancur.
AKU akan kembali sadar ketika hijab-hijab pada jasad telah hilang.
14. AKU TIDAK MERASA HINA
AKU tidak merasa hina karena miskin papa atau buruk rupa atau cacat tubuh atau tidak berpangkat atau tidak banyak kawan atau tiada harta benda sedikitpun jua
Semua itu berkaitan dengan keduniaan dan kebendaan, tidak ada sangkut paut dengan AKU yang bersifat kerohanian.
AKU hina jika kufur dengan Allah.
AKU hina jika jauh dengan Allah,
AKU hina jika tidak beriman dan tidak bertakwa,
itulah kehinaan pada AKU yang sebenar-benarnya.
15. AKU APA ADANYA
AKU tidak megah dengan harta benda, uang, pangkat jabatan, kekuasaan, sanak saudara yang banyak dan segala ghairullah (selain Allah).
AKU tidak iri hati dengan orang kaya. tidak dengki dengan orang-orang berpangkat tinggi.
Pada pandangan AKU segala harta benda, uang, pangkat jabatan, istri, anak pinak, saudara dan sebagainya itu adalah milik Allah yang dianugerahkanNya kepada siapa saja yang dikehendakiNya.
Dia yang menentukan siapa yang patut diberi harta banyak dan siapa yang patut diberiNya harta yang sedikit.
Semua itu Allah yang menentukan.
KetentuanNya tidak dapat disanggah dan dipermasaalahkan.
Kenapa AKU mesti gusar dan iri hati dengan ketentuanNya.
Dia yang AKU puji dan puja tentulah AKU redha dengan ketentuanNya.
16. ASAL AKU
AKU itu diri.
Diri manusia itu banyak tetapi berasal dari Diri Yang Satu.
Diri itu ROH.
ROH itu banyak tetapi berasal dari Satu ROH yaitu AL ROH.
Al Roh itu diberi gelar oleh orang-orang Sufi sebagai Hakekatul Muhammadiyah atau juga digelar Insan Kamil atau Insan Kabir.
AL ROH itu juga digelar Al Roh Ul Kulliyah (Roh semesta).
Dari ROH Semesta inilah didzahirkan ROH-ROH yang banyak itu.
Allah dzahirkan Al Roh dan dari Al Roh didzahirkan sekalian ROH.
ROH seseorang itu pancaran dari Al Roh dan Al Roh berasal dari Allah jua
17. AKU TIDAK HERAN
AKU tidak kagum dengan kemajuan manusia.
Tidak kagum dengan kemajuan sains dan teknologi, kemajuan perniagaan dan perindustrian.
Bahkan AKU tidak heran dengan segala urusan keduniaan.
Yang diherankan oleh AKU ialah Allah Yang Maha Bijaksana yang melimpahkan segala ilham kemajuan itu.
Sebenarnya Dialah yang maju dan Dialah yang bijaksana.
Dia yang memiliki segala ilham.
Sumber ilham kemajuan itu dari Yang Memiliki Ilham itu sendiri yaitu Allah jua.
18. TEMPAT ASAL AKU
AKU sebenarnya berasal dari tempat yang tinggi dan mulia yaitu di hadirat Allah Ta’ala
Kemudian datang sebentar ke alam bumi dan di-jasad-kan dengan badan jasmani untuk waktu yang ditentukan seperti merantau sebentar di alam bumi ini.
Apabila sudah cukup waktunya berada di perantauan,
AKU pun kembali pulang menuju ke tempat asal.
Ibarat perantau kembali ke kampung halaman. Tidaklah terkira hati berasa nyaman.
Tetapi jika diperdalam, direnung dan dikaji,
AKU tetap berada di tempat sendiri.
Bukan dari mana dan ke mana pergi.
Kapan dan di manapun juga AKU tetap di tempat sendiri jua.
AKU datang dari Ilahi, tidak bercerai walaupun seinci dan sesaat.
AKU tetap bersama setiap masa dengan Allah swt.
Dulu AKU bersama denganNya, sekarang pun bersama denganNya, akan datang pun bersama denganNya. Senantiasa AKU terus bersama-sama denganNya.
AKU ini tetap AKU jua, bersama Allah senantiasa.
Hanya alam-alam yang ditempuh saja berbeda , dari satu alam ke satu alam yang lain..
AKU senantiasa kekal dengan Allah, walaupun di alam mana pun AKU berada.
19. PENYERAHAN BULAT AKU PADA ALLAH
AKU senantiasa menyerahkan diri kepada Allah swt.
Penyerahan total, bulat sepenuhnya.
AKU menyerahkan diri kepada Allah ibarat bayi menyerahkan dirinya kepada ibunya, ibarat mayat menyerahkan dirinya kepada pemandi mayat, ibarat ombak mem-fana-kan atau melenyapkan dirinya kedalam lautan.
Bahkan lebih dari itu lagi. Tidak dapat digambarkan lagi.
20. AKU JUGA ADA KALA SANGSI
Adakalanya AKU itu sangsi dan ragu atau perasaan tidak menentu terhadap kasih sayang Yang Maha Penyayang.
Mungkin setan berbisik kedalam kalbu supaya ragu-ragu dan tidak percaya dengan kasih sayang Yang Maha Pengasih.
Oleh karena itu, AKU senantiasa memohon perlindungan Allah dari bisikan setan.
Setiap saat AKU berjuang melawan bisikan setan itu dan mengharapkan bantuan dari Yang Maha Gagah Allah swt.
                                                                                                                                                                       

Siri Aku 21 sampai 30

21. KESADARAN AKU
Dalam kesadaran AKU, semua makhluk ini dan diri AKU juga adalah semata-mata ayatollah (tanda-tanda Allah).
Tanda-tanda adanya Allah, tanda-tanda kesempurnaanNya, keagunganNya dan keindahanNya.
Apabila dilihat tanda, tergambarlah yang ditanda.
Apabila dilihat gambar, terbayanglah yang digambar.
Apabila dilihat daun yang bergoyang, nampaklah angin yang bertiup.
Apabila nampak bayang, nampaklah yang empunya bayang.
AKU dan alam semesta raya ini adalah ayat-ayat Allah belaka.
22. PENGEMBARAAN AKU
Orang yang memasuki jalan kesufian adalah sebenarnya memasuki pengembaraan yaitu pengembaraan AKUnya menuju Allah swt.
Pengembaraan ini bukan dari tempat ke tempat atau dari masa ke masa, tetapi pengembaraan ini adalah pengembaraan dalam kesadaran AKU, beredar dalam pengalaman kerohanian atau kejiwaan.
Hanya jiwa yang merasainya, tidak kelihatan oleh mata kasar.
Tetapi setelah sampai ke tempat dituju yaitu kesadaran bahwa AKU ini fana dalam Allah dan Baqa (kekal) denganNya, barulah AKU itu sadar bahwa pengembaraan itu hanya dari tidak sadar kepada sadar.
Sadar betapa AKU memang berada di destinasi sejak awal hingga akhir.
Apakah destinasi itu?
Itulah kesadaran dan pengenalan tentang Allah atau dalam istilah kesufian disebut MAKRIFAT.
Pada hakekatnya AKU itu memang berada ‘dalam’ Allah dan ‘kekal’ dengan Allah sejak awal dari dulu, sekarang, dan akan datang.
AKU memang bersama dan ‘menyatu’ dengan Tuhanku.
AKU itu memang diliputi oleh lautan Wujud Ketuhanan.
23. AKU PALING MULIA PADA KENYATAANNYA
Badan kita ini amat kerdil, ibarat sebutir pasir di padang gurun, setitik air di lautan luas, sebiji bintang di cakrawala, ibarat “melukut di tepi gantang, masuk tidak bertambah dan keluar tidak mengurang”
Betapa kecil dan kerdilnya badan kita. Itulah wajah dzahir AKU.
Tetapi kalau kita merenung ke wajah batin kita, Dia paling Mulia, paling Agung martabatnya, mengatasi segala makhluk dan malaikat.
AKU itu suci dan bersih, sangat dekat dengan Illahi.
Dialah cahaya Allah, Dialah ayat-ayat Allah, Dialah ROH Allah, Dialah bayangan dan pendzahiran Allah.
AKU yang hakiki itu sangat Mulia, tiada tertandingi oleh sekalian makhluk.
Dia bertasbih setiap saat, memandang Allah dengan kasihnya, rindu dendam tiada terkira. Itulah AKU yang sebenarnya.
24. AKU TIDAK MEMILIKI APA-APA
Dari pandangan ROH atau AKU yang hakiki, AKU tidak memiliki apa-apa tetapi AKU dimiliki oleh Yang Maha Kaya yaitu Allah swt.
AKU dijasadkan untuk menjalani hidup di dunia fana ini.
AKU juga diberi nafsu.
Kalau AKU tunduk kepada jasad dan nafsu, maka binasalah AKU ini, tetapi jika AKU yang menakluki jasad dan nafsu, maka selamatlah AKU ini.
AKU membawa kita menuju Allah dan menyadari hakekat dirinya dan Tuhannya.
Nafsu serakah membawa kita jauh dari Allah dan lupa akan hakekat diri kita.
Lantaran itu hanyutlah ia dalam lautan kelupaan dan kesesatan dan akhirnya ia akan menyesal setelah ia meninggalkan badannya.
Setelah ROH berpisah dari badan, maka sadarlah AKU itu kembali akan keadaan diri yang sebenarnya.
25. AKU SENANTIASA CINTA DIA
AKU senantiasa cinta kepada DIA (Allah).
Tidak mau berpisah dan berjauhan dengan DIA.
AKU senantiasa ingat akan DIA.
Terasa azab jika tidak mengingatiNya. Puja dan puji hanya untuk DIA semata. Perasaan cinta ini tidak akan ada pada AKU jika tidak dengan anugerahNya juga.
Alangkah kerdilnya AKU berada dalam majlis DIA.
26. AKU MEMANG ADA KESADARAN
AKU memang ada kesadaran, limpahan Yang Maha Sadar Allah swt.
Kesadaran AKU meliputi alam nyata dan alam gaib, alam dunia dan alam akhirat.
AKU sadar semua itu.
Semua perkara itu adalah ilmuku.
Allah ada dalam kesadaran AKU.
Begitu juga makhluk ada dalam kesadaran AKU.
Segala yang ada dalam kesadaran AKU itulah ilmu AKU.
Surga, neraka, malaikat dan iblis ada dalam kesadaran AKU.
Semua yang ada dalam ilmu atau kesadaran AKU itu adalah pen-dzahiran Allah dalam kesadaran dan ilmu AKU.
27. WUJUD AKU
AKU wujud dalam lautan Yang Maha Wujud. AKU senantiasa berada dalam lautan itu. Dalam lautan itulah AKU bermastautin. Itulah lautan wujud.
28 AKU SEBENARNYA DHAIF
AKU bodoh.
Dialah yang membuat AKU pandai.
AKU lemah Dialah yang menguatkan AKU.
AKU tidak tahu, Dialah yang memberiku tahu.
AKU papa kelana, Dialah yang memperkayakan AKU.
AKU bertanya, memohon, berharap kepadaNya saja. Seolah-olah AKU dan DIA berpadu dan bersatu di mana dan kapan saja.
Dan DIA ada dalam kesadaran AKU.
Renunglah ke dalam AKU.
Dia berada dalam kesadaran AKU.
Maha Halus dan Maha lembut.
AKU mendengar bisikanNya.
Dalam waktu sunyi sepi, paling baik mendengar bisikan hati nurani.
Tanpa huruf, tanpa suara, tetapi AKU faham segala-galanya.
AKU kenal Dia dalam kesadaran batinku karena AKU berhubungan dengan Dia tanpa menyekutukanNya. Inilah satu hasil Zikrullah.
29. AKU BESERTA ALLAH
AKU memang berserta dengan Allah, sejak dari dahulu hingga akan datang atau sejak awal hingga akhir.
Tidak pernah bercerai dan berpisah dengan Yang Maha Aku yaitu Allah.
Sejak dari dalam ilmu Allah hingga sampai ke alam akhirat yang tidak ada ujungnya, AKU tetap bersama Allah.
AKU tidak keluar dan tidak masuk dalam lengkungan Allah. AKU itu memang berada dalam lengkungan Allah saja.
Kalau Allah itu diibaratkan sebagai lautan, maka AKU itu ikannya. Ikan itu senantiasa dalam lautan dan tidak akan hidup tanpa air lautan itu.
‘Masuk’ dan ‘Keluar’, ‘berpisah’ dan ‘bersatu’, tidak termasuk dalam kamus AKU.
AKU bukan seperti badan kasar yang takluk kepada ruang dan waktu.
AKU menyerahkan diri dan nasib kepada Yang Maha AKU.
Cukuplah Dia mengawal dan memelihara AKU.
AKU tidak perlu pada yang lain lagi.
Tidak perlu pertolongan dari ghairullah (selain Allah), bahkan tidak ada ghairullah pada pandangan AKU
Cukup Allah saja bagi AKU.
30. AKU ITU HIDUP
Dalam alam dunia ini kita katakan si anu itu orang kota dan si anu itu orang desa, ataupun si anu itu pejabat atau si anu itu berada di rumah mewah.
Semua itu menunjukkan tempat dalam alam nyata ini.
Tetapi bagi ROH itu semua tidak ada.
Ia bebas dari tempat atau arah atau masa atau waktu.
ROH itu hidup. Ia tidak takluk kepada alam nyata atau alam kebendaan.
ROH itu hidup dengan limpahan Yang Maha Hidup.
Demikianlah AKU.

Siri Aku 31 sampai 40

31. AKU TAJALLI ALLAH
AKU yang hakiki itu adalah Nurullah.
Sesuatu yang menampakkan sesuatu yang lain adalah cahaya.
Tanpa cahaya gelap gulita segala-galanya
.
AKU juga ayatollah (tanda-tanda Allah) karena ROH itu tanda daripada adanya Allah.
AKU juga digelar Rohullah karena ROH itu adalah hembusan dari Roh Allah.
Itulah AKU yang hakiki.
AKU dan alam semesta adalah pendzahiran atau Tajalli Allah.
AKU ini adalah alam kecil karena semua perkara yang ada dalam alam besar ini ada gambarannya atau pendzahirannya dalam alam kecil.
Alam semesta ini juga digelar Insan Kabir (manusia besar) karena semua yang ada dalam alam kecil ini pada kenyataannya ada dalam alam besar.
Insan Saghir (manusia kecil) ini adalah diri (ROH) manusia itu dan Insan Kabir itu adalah alam semesta raya yang gaib dan yang nyata.
Alam kecil adalah Insan Saghir yaitu Manusia dan Alam Besar adalah Insan Kabir yaitu Alam Semesta Raya.
32. AKU HANYA WAYANG
AKU ini pada hakekatnya adalah wayang yang dimainkan oleh dalang yaitu Allah.
AKU ini ibarat keris yang dihunus oleh pendekar.
AKU tidak berdaya upaya, gerak dan diam AKU adalah digerakkan dan didiamkan oleh Allah.
Adanya AKU adalah limpahan dari adanya Allah.
Allah itu hakiki. AKU ini majazi atau relatif saja. Kalau dipahami dan diselidiki secara mendalam, akan terasa bahwa yang gaib dan yang dzahir dan yang awal dan yang akhir adalah Allah jua
Singkatnya pada pandangan orang yang sangat dekat dengan Allah, alam dan dirinya lenyap sama sekali dan tinggallah Allah semata-mata. Ini dipandang oleh ROH yang bersih dan suci dan mentauhidkan diri kepada Allah semata-mata.
33. AKU BERASAL DARI TEMPAT MULIA
AKU yang hakiki itu tidak tertakluk kepada warna kulit dan bangsa.
AKU itu bukan putih, hitam manis, kuning langsat dan sebagainya. Sebagaimana adanya warna kulit pada badan. AKU tidak ada warna dan tidak berbangsa-bangsa seperti bangsa Cina, India, Indonesia, Arab dan sebagainya.
Badan kita berasal dari unsur-unsur tanah, air, api, dan udara tetapi ROH kita bukan dari unsur-unsur dunia nyata ini.
AKU gaib dari pandangan mata kasar namun AKU tetap wujud.
AKU berasal dari tempat yang paling mulia. AKU berasal dari Yang Maha AKU
AKU berasal dari ilmu Allah masuk ke alam jasad ini dan kemudian kembali kepadaNya. Jadilah ROH itu sebagai Nur Allah saja. Ia pun kembali ke tempat asalnya yaitu ke hadirat Allah swt.
34. AKU PERLU DIBERSIHKAN
AKU tidak terkotorkan oleh kencing dan tahi.
Tidak ada najis secara fisik yang dapat mengotori-ku
Ibarat cahaya matahari, cahaya itu menyinari najis dan benda-benda kotor, namun cahaya itu tidak akan kotor. Ia menyinari tempat bersih dan tempat busuk, tetapi cahaya tidak akan wangi dan busuk, kotor atau bersih.
Najis pada AKU itu ialah Syirik, menyekutukan Allah, menduakan Allah dengan yang lain. Itulah najis bagi AKU.
AKU yang bertauhid adalah ROH yang suci. ROH itu pada hakekatnya senantiasa percaya dengan adanya Allah dan mengesakanNya.
Hanya setelah sampai ke alam dunia barulah ROH itu tercemar oleh pengaruh keduniaan, pengaruh iblis dan setan, pengaruh kebendaan, pengaruh nafsu serakah, syahwat dan sebagainya.
Kita perlu membersihkan jiwa atau AKU kita kembali sebagaimana aslinya dengan zikrullah (mengingat Allah) dengan lisan, hati dan perbuatan.
Zikrullah itu ibarat air mutlak yang membasuh dan menyucikan najis syirik dari AKU itu. Bersihkanlah AKU itu hingga ‘fana’ (terasa diri kosong, tiada apa-apa) dan kemudian naik mencapai setingkat lagi ke peringkat ‘baqa’ (terasa diri sentiasa bersama Allah). Terasa Allah ada dimana saja kita berada.
AKU yang bersih atau diri yang suci adalah diri yang meng-Esa-kan Allah hingga tidak terasa adanya diri. Yang ada hanya DIRI YANG BERDIRI SENDIRINYA yaitu ALLAH SWT.
35. AKU TIDAK TERTAKLUKAN
AKU ini adalah ROH. Itulah yang dinamakan diri.
ROH ini tidak tertaklukan oleh ruang dan waktu. ROH tidak tua dan tidak  muda. Tua dan muda itu hanya bagi jasmani dan keadaan dunia ini saja. Semua ROH adalah sebaya saja. Nabi Adam as sebaya dengan Nabi Muhammad saw. Kita sebaya dengan moyang kita. Anak kita sebaya dengan kita, Begitulah seterusnyanya. Tiada tua dan muda bagi ROH. ROH tercipta serentak dan sekaligus saja.
Kemudian ROH itu dilahirkan ke dunia melalui rahim ibu dengan badan kita sebagai sangkar atau sarungnya. ROH dilahirkan ke dunia menurut masa yang telah ditentukan. Siapa yang ditakdirkan lahir dahulu dialah yang tua dan siapa yang lahir kemudian dialah yang muda.
Dari segi Jasmaniah atau kebadanan ada tua dan ada yang muda, tetapi dari segi ROH sebaya saja.
AKU juga tidak takluk kepada tempat. AKU bukan Barat dan bukan juga Timur. Bukan juga dari Utara dan bukan juga dari Selatan. AKU tidak tertakluk kepada arah dan tempat.
AKU juga bukan takluk kepada bangsa. AKU atau ROH bukan berbangsa itu dan bukan berbangsa ini. Bangsa-bangsa itu hanya wujud dalam dunia nyata ini. Di alam AKU tidak ada bangsa-bangsa.
AKU adalah ma’lum dalam ilmu Allah, wujud dalam wujud-NYA. AKU adalah pendzahiran sifatNya. Demikian AKU tenggelam dalam Yang Maha Aku.
36. AKU TETAP KEMBALI
AKU miskin papa, lemah, tidak berdaya dan tidak punya apa-apa. Yang Kaya Raya, Yang Gagah Perkasa, Yang Kuat dan Berdaya dan memiliki segala-galanya adalah Yang Maha Kaya dan Maha Kuat itu juga. yaitu Allah swt.
Hidup AKU kembali ke hidupNya. Gerak AKU kembali kepada gerakNya. Diam AKU kembali kepada diamNya. Sifat AKU kembali ke sifatNya. Nama AKU kembali ke namaNya. Amalan AKU kembali ke amalanNya. Wujud AKU kembali ke wujudNya.
Memang benar, AKU itu akan kembali kepadaNya, laksana cahaya kembali ke matahari, seperti ombak kembali ke laut. Tempat kembali itulah tempat AKU sebenarnya.
37. AKU HANYA
AKU itu sebenarnya bebas merdeka. AKU hanya bergantung kepada Yang Maha AKU.
AKU tidak memiliki apa-apa. AKU hanya menerima limpahan wujud dari Yang Maha Wujud.
AKU tidak patut dipuji kerana AKU “kosong”.
Yang Maha Wujud Hakiki hanya Allah.
AKU tidak memuji Ghairullah (selain Allah) karena Ghairullah itu pun kosong juga. Yang patut dipuja dan dipuji hanya yang Wujud Hakiki itu saja.
AKU hanya ‘satu pancaran’ dari sinar Matahari Ketuhanan. AKU hanya ‘satu ombak’ dari lautan Ar-Rahman. AKU hanya ‘satu ayat’ dalam karangan Al-Haq (yang benar) yaitu Allah. AKU hanya ‘satu butir’ pasir dalam padang pasir Wujud Yang Maha Meliputi dan Maha Luas. AKU hanya ‘satu bayangan’ dari bayangan Dia Yang Maha Ada. Itulah AKU yang tidak terpisah dengan Tuhanku.
 38. PERJALANAN AKU
AKU datang dari Allah. AKU adalah ma’lum (yang diketahui) dalam ilmu (pengetahuan) Allah.
Kemudian AKU berada di alam ROH.
Bila sampai masanya hendak lahir ke dunia AKU dihembuskan ke bakal bayi dalam rahim ibu. Cukup masanya dalam rahim ibu itu, AKU pun lahir ke dunia bersama badan fisikal yang berbentuk bayi.
AKU akan berada di dalam alam dunia sampai ajal datang menjemput. Kemudian AKU masuk ke alam Barzakh. Setelah berada sekian lama, maka akan dipertimbangkan di Hari Pengadilan. AKU akan masuk surga atau neraka ?
Kemanapun AKU masuk, hendaknya AKU kembalilah ke hadirat Allah swt.
Dari Allah AKU datang kepada Allah AKU kembali. Di sana kekallah hidup bersama dengan Yang Maha Hidup selama-lamanya. Itulah perjalanan AKU. Mengembara dari satu alam ke satu alam.yang lain.
39. PENCAPAIAN AKU
Setelah mencapai tahap pandangan ROH yang tinggi, maka kemana saja ROH itu menghadap di sana terdzahir wajah Allah seolah-olah Ia berada dimana-mana jua.
.
Maha dekat Allah tidak terkira
Bersatu bersama sehati sejiwa
Maha jauh namun dekat jua
Gerakku gerak Dia
Diamku diam Dia
Tindak-tandukku tindak-tanduk Dia
.
Hidupku pancaran hidupNya
Diriku bayangan diriNya
Sifatku gambaran sifatNya
.
Kalau Dia matahari akulah cahayaNya
Kalau Dia lautan akulah ombakNya
Kalau Dia asin akulah garamNya
Kalau dia manis akulah gulaNya
Aku seorang berdua denganNya
Tapi aku berpadu denganNya
Maha dekat disamping maha jauhNya
Oh! Alangkah hebat wujudNya
Wujudku tenggelam dalam wujudNya
Fana dan Baqa dalam adaNya.
Demikian pandangan orang-orang Kesufian yang telah mencapai peringkat serasa seolah-olah berserta dengan Wujud Yang Maha Esa itu. Mereka mencapai tahap demikian karena mereka menumpukan seluruh pandangannya terhadap Yang Maha Wujud itu dan penuh cinta denganNya.
Orang yang tidak pernah menjalani latihan rohaniah dan tidak tahu hal-hal kerohanian yang mendalam dan tidak pernah menempuh jalan kerohanian, mereka jangan coba-coba mentafsirkan sendiri pendapat mereka itu takut nanti tersesat pula.
40. AKU BUKAN ALLAH
Sungguhpun AKU itu berpandangan seperti yang tersebut dalam Penjelasan-penjelasan ‘Siri Aku sebelumnya’, namun AKU tidak akan menjadi DIA.
AKU tetap AKU, DIA tetap DIA.
AKU dan DIA “bersatu” dan “berpadu”  menjadi SATU tidak terpisahkan.
Ibarat bersatunya ombak dengan lautan, bersaatunya gula dengan manisnya.
Perdalam pandangan ini dengan Zikrullah dan bimbingan guru Mursyid yang berpengalaman dalam bidang Kerohanian dan Ketuhanan.

Siri Aku 41 sampai 48

AKU BERSIFAT ROHANIAH
AKU yang bersifat rohaniah semata-mata itu terasa cukup bagi-ku Allah saja. Allah itulah segala-galanya bagi AKU. Kepada Allah itulah AKU mengadu dan berharap.
Pandangannya tertumpu pada Allah. Tenggelamlah AKU itu dalam lautan Ketuhanan Allah Yang Maha Luas dan Dalam.
Dalam keadaan perasaan menyerap dalam Lautan Ketuhanan Yang Maha Luas dan Dalam itu, AKU tidak merasa takut, tidak merasa dengki, tidak merasa kecil hati sesama makhluk.
Pada pandangan AKU itu, makhluk itu hakekatnya tiada apa-apa. Wujud makhluk bukan hakiki, hanya bayangan saja yaitu bayangan wujudnya Allah. Hanya Allah jua yang wujud. Demikian pandangan AKU.

42. SIFAT-SIFAT AKU

AKU ini ada sifatnya yaitu hayat atau hidup, ilmu atau pengetahuan, pendengaran, penglihatan, kudrat atau kuasa, iradat atau berkehendak, dan berkata-kata. Semua sifat-sifat ini adalah limpahan dari sifat-sifat Allah semata.
AKU yang hakiki itu tiada bercerai dan tiada terpisah dengan sifat-sifat Allah dan Allah itu sendiri. Wujud AKU itu sebenarnya diserapi oleh Wujud Semesta Raya itu. Inilah pandangan AKU yang bersifat rohaniah.

43. WUJUD AKU
Memang AKU itu ada (wujud). Wujudnya dengan limpahan Wujud Yang Maha Agung.  Hidup AKU limpahan hidupNya. AKU berdaya limpahan dayaNya. Berkuasanya dan berupayanya AKU adalah limpahan kuasa dan upayaNya. Aku berkehendak dan Diapun berkehendak. Kehendak AKU tertakluk kepada kehendakNya.
“Limpahan” disini berarti karuniah atau anugrah atau pendzahiran atau keluaran ataupun kesan.
Yang Maha Wujud itu Allah. AKU dan alam semesta raya adalah limpahan nama-nama dan sifat-sifat Yang Maha Wujud itu. Setiap nama dan sifat Allah terdzahir pada AKU dan alam semesta raya ini.
Itulah pandangan AKU yang bersifat kerohanian.

44. AKU DZAHIR AKU BATIN
AKU atau ROH atau DIRI, wujud AKU “bersatu” dan “berpadu” dengan Wujud Yang Esa dan Semesta itu. Kelihatan pada AKU bahwa Allah itu batin dan AKU itu Dzahirnya. Allah itu hakekat dan AKU itu bayanganNya. Dia Matahari dan AKU cahayaNya. Dia elektrik dan AKU lampu. Dia dalang dan AKU wayang. Gerak AKU digerakkan olehNya.Ini adalah pandangan kerohanian yang paling dalam.

45. AKU AMAT DEKAT DENGAN ALLAH
AKU ini memang dekat dengan Allah. AKU dan Allah tidak bercerai-berai dari dulu, sekarang dan selamanya. Ibarat ombak tidak bercerai dengan laut. Dari sudut manapun Wujud Semesta Raya itu tetap mengelilingi AKU. Ia meliputi AKU dari kiri, kanan, atas, bawah, depan, belakang, luar, dalam bahkan dari mana saja. ” dekat”, “rapat” dan “Mengelilingi” itu bukanlah dari segi ruang dan waktu yang boleh diukur dengan panjang, lebar, dalam, atau dari segi masa dan waktu. Dekat, Rapat dan Mengelilingi itu adalah dari segi pandangan rohaniah atau kerohanian. Hanya orang yang berada dalam pengalaman rohaniah saja yang faham akan maksudnya.
Wujud semesta itu “meliputi”, “merangkumi”, “berpadu”, dan “bersatu” dengan AKU.
AKU terserap dalam Wujud Semesta ini.

46. MENGENAL ALLAH
AKU atau ROH itulah yang dapat mengenal Allah swt, bukan badan kasar ini yang mengenalNya. Melalui ROH itu kita mengenal Allah. Wadah atau bekas tempat Allah mentajallikan (mendzahirkan) dirinya kepada kita ialah ROH kita
ROH itu digelar juga Hati. Bukan hati secara fisikal tetapi hati yang bersifat kerohanian. ROH itu memiliki kesadaran. Kesadaran tentang wujudnya Allah dan sifat-sifatNya yang terdzahir dalam alam semesta raya ini. Yang melihat pendzahiran atau tajalli itu ialah ROH kita.

47. AKU ADALAH AYATOLLAH

Sekali lagi diulangi bahwa AKU anda itu adalah ROH anda dan itulah juga diri anda sebenarnya.
AKU itu juga adalah ayatollah (tanda-tanda Allah)  karena seluruh alam raya, yang ghaib dan yang nyata, adalah tanda-tanda wujudnya Allah swt
AKU itu juga digelar ROHULLAH (ROH ALLAH) karena ROH itu adalah hembusan dari ROH ALLAH atau limpahan dari ROH ALLAH.
AKU itu juga digelar Nurullah ( cahaya ALLAH) karena setiap roh itu adalah cahaya. Digelar cahaya karena setiap yang menampakkan sesuatu digelar cahaya . Nabi-Nabi itu cahaya Allah karena melalui Nabi-nabi itu kita dapat mengenal Allah melalui ajaran dan didikan mereka. ROH itu cahaya karena melalui ROH itu kita kenal dan ‘nampak’ Allah.
AKU itu juga digelar Ma’lum dalam ilmuNya. Ma’lum artinya ‘yang diketahui’. Allah itu ‘Alim ( yang mengetahui). Setiap yang mengetahui tentu berpengetahuan (berilmu). Allah itu berilmu, sebab itulah Ia ‘Alim. Setiap yang ‘Alim tentu ada ilmu dan ada perkara yang diketahuinya. Perkara yang diketahui itu digelar Ma’lum (yang diketahui). Allah itu ada ilmu dan dalam ilmuNya ada Ma’lum. ROH kita ini termasuk dalam ilmu Allah. Maka ROH kita itu Ma’lum Allah. Maka itulah dikatakan ROH itu Ma’lum dalam ilmu Allah.

48. PANDANGAN AKU
AKU yang paling dalam itu bersifat kerohanian. Jika AKU itu dibersihkan pandangannya melalui zikrullah dan latihan kerohanian maka AKU itu akan mencapai satu tahap pandangan dimana rasa wujud ini adalah Esa juga.
Menurut pandangan ini, wujud itu ada bertingkat-tingkat, bertahap-tahap, dan berbagai macam aspek, namun ia tetap satu, bahwa segala yang ada dan kelihatan, baik yang dzahir mahupun yang batin, semuanya pada hakekatnya satu wujud saja.